APA YANG HARUS DILAKUKAN ORANG TUA KEPADA ANAKNYA ?


“Anak bagi seorang ibu, meski ia terlahir dari rahimnya. Namun ia BUKAN miliknya. Anak itu milik Allah, hambanya Allah.”

Mintalah pertolongan Allah dalam mendidik anak. Karena kita tidak kuasa atas hati anak kita.

1.                Tanamkan Keimanan

a.                Beritahu bahwa mereka adalah hamba Allah

b.               Ajarkan pentingnya berdo’a, tawakkal, dan yakin

c.                Ajarkan cinta kepada Rosulullah saw

Apa yang dibaca, apa yang dikatakan itu adalah proses menanam”


Adakalanya anak sulit sekali untuk menghabiskan makanan. Maka dalam proses itu katakanlah “ nak, makanannya harus dihabiskan. Allah sudah memberikan kita rizki ini, harus kita syukuri”. Tapi, seringnya kita bilang gini “ Habiskan makanannya! Gak tau apa, mamah udah masak capek-capek! Tinggal makan aja susah amat!”.

Sering pula kita dapati, kekhilafan sehingga kita sebagai orang tua memposisikan diri sebagai Tuhan bagi anak-anak kita. "Dasar anak gak tau terimakasih! Kalau bukan karena usaha mamah, kamu tuh nggak akan bisa hidup kaya sekarang!"

Masya Allah, mudaha-mudahan kita terhindar dari sifat merasa sebagai Tuhan.
Suatu hari Anas bin Malik (Budak Rosulullah saw), memecahkan piring. Istri Rosul melihat hal itu berkata “ Yah! Ko kamu pecahin si Nas piringnya..”

Melihat hal tersebut, sambil tersenyum Rosulullah saw berkata “ Gak apa-apa, kalau Allah gak kehendakin pecah, piring itu gak akan pecah.”

Rosulullah saw mengajarkan keimanan pada setiap sudut perilaku dan kejadian.
Dalam kisah lain, ustadzah bercerita tentang Hubabah Bahiyah. Saat hubabah Bahiyah berusia delapan tahun, beliau diajak jalan-jalan oleh ibunya. Sang ibu mengajaknya ke toko baju, namun Hubabah kecil tidak mengucapkan permintaan apapun. Lalu sang ibu mengajaknya ke toko mainan, Hubabah kecil juga tidak meminta apapun. Sang ibu berpikir, “ko anak ini gak minta apa-apa ya? Apa dia nyangka saya sedang gak ada uang kali ya”

Sang ibu memutuskan untuk mengajaknya ke tempat makan, namun sang anak tetap tidak meminta apa-apa. Kemudian saat tiba di rumah sang ibu bertanya “nak, saat di toko-toko tadi tidak ada yang kamu sukakah? Tidak ada yang ingin dibeli?”

“Ada banyak yang aku suka mah” jawabnya polos

“Kenapa kamu nggak minta dibelikan mamah?

“Mah…bukankah harusnya aku memintanya kepada Allah?”

Sang ibu takjub, bertanya lagi “kemudian, kalau kamu sedang ingin sesuatu. Kamu gimana?”

“Aku minta sama Allah mah, terus ada aja jalan Allah memberikan yang aku inginkan”

Kisah ini, kisah tentang sang pencinta. Pecinta Rosulullah saw.

Abdur Rahman bin Auf saat sebelum perang berdo’a, “ya Allah mudah-mudahan saat perang Badar nanti samping kanan dan kiri saya tentara yang kuat dan gagah”.

Selepas berdo’a, ia dapati samping kanan dan kirinya dua orang pemuda, yang kira-kira umur mereka masih 15 tahun. Pemuda sebelah kiri mencolek Abdurrahman “paman, engkau kenal Abu jahal?”

“iya aku kenal”

“ssstt…jangan kencang-kencang jawabnya paman. Adikku disebelah kirimu. Aku dan dia akan berlomba membunuh Abu Jahal”

“Memangnya kenapa?” Tanya Abdur Rahman penasaran.

“Karena yang kudengar, Abu Jahal adalah orang yang sangat membenci Rosulullah saw.”

Pertanyaan yang sama ditanyakan oleh adik pemuda tersebut. Abdur Rahman mengira mereka berkata seperti itu mungkin karena mereka belum pernah melihat Abu jahal yang berbadan besar dan seorang ahli perang. Kalau sudah melihatnya, pasti takut.

Perang berlangsung sengit. Saat Abdur Rahman melihat Abu Jahal, ia berteriak “Hai pemuda! Itulah Abu Jahal!”

Tak disangka, dengan gagah berani kedua pemuda tersebut menyerang Abu Jahal. Dengan rasa cinta di hati, cinta kepada Rosulullah saw.

2.                   Buat anak dekat dengan Agama

“Apapun profesi sang anak kelak, bila ia memahami agama dengan baik. Insya Allah akan menjadi ibadah yang kebaikannya terus mengalir bagi kedua orang tuanya”.

Suatu hari saat lebaran, Rosulullah saw melihat seorang anak kecil menggalau. Wajahnya sendu, memainkan jemari-jemarinya. Rosulullah saw mendekati anak tersebut, membungkukkan badannya seraya bertanya “nak, mengapa bersedih?”

“Anak-anak lain bahagia, punya baju baru. Sementara aku tidak”

“Ayahmu dimana nak?”

“Ayahku meninggal saat berperang bersama Rosulullah saw” jawab anak itu polos, tidak mengetahui bahwa lelaki yang ada dihadapannya adalah Rosulullah saw.

“Kalau ibumu kemana?”

“Ibu sudah menikah lagi dan tidak pedulikanku”

Rosulullah segera menghampiri cucunya, Hasan. Beliau berkata kepada Hasan “cucuku, maukah kau berikan baju barumu untuk anak yatim disana?” nanti Allah menggantinya dengan yang lebih baik di syurga untukmu.

“Tentu kakek” jawab Hasan tanpa berat hati, sambil melepas pakaian barunya.

Rosulullah saw tidak menjanjikan dengan mengganti dengan baju baru lagi. Tapi, lebih daripada itu. Sang Rosul mengajarkan nilai-nilai agama. Berbuat sesuatu karena ingin dekat dengan sang pencipta.
...

Ajak anak BUKAN suruh anak

“Sebelum apa yang kau lakuakan dapat dicontoh anakmu, benahilah hatimu. Sebab yang eluar dari hati akan sampai ke hati”

“Nak, sholat bareng yuk”
“Nak, belajar sama mamah yuk”

Begitupun saat berdo’a. Ucapkan do’a sekiranya sampai terdengar sang anak. Kita mendoakan orang tua, guru-guru kita. Sehingga sang anak merasakan bagaimana orang tuanya, mencintai orang tua dan guru-guru mereka.

3.                   Bangun kebiasaan baik di rumah

“Nak, kita saling mengingatkan ya. Kalau mamah sedang melakukan kesalahan tolong ingatkan mamah. Begitupun saat kamu melakukan kesalahan, mamah juga akan mengingatkan.”

Sehingga dapat tercipta, suasana dimana saat sang anak melihat kamar ayah dan ibunya. Ia dapati kedua orang tuanya sedang ibadah. Melihat kamar sang kakak, ia dapati sedang belajar. Maka otomatis sang anak menjadi ikut melakukan kebaikan.

Adakalanya kita memiliki ego yang tinggi. saat anak mengingatkan kebaikan cenderung kita merasa lebih tau segalanya. Sehingga sering kali kita malah menyambut anak kita dengan kalimat "Kamu tuh masih kecil, ndak tahu apa-apa. Nggak usah sok ngenasehatin". Atau "Iya mamah tahu kamu lebih pinter dari mamah. Mamah mah cuma lulusan SD. Emang kamu yang paling benar!"

4.                   Tunjukkan kasih sayang

Kebaikan bila ditunjukkan dengan cara yang tidak benar maka hanya akan menjadi keburukan”

Misalnya anak kita lelah habis begadang belajar. Kemudian datang waktu shubuh. Karena kasihan terus kita putuskan untuk tidak membangunkannya sholat. Tentu ini kejahatan bukan kasih sayang. Atau kita menyampaikan maksud sayang dengan membentak atau memukul, tentu yang akan sampai kepada anak jadi berbeda.

Rosulullah saw, punya kebiasaan mencium anak-anak beliau hingga dewasa. Beliau tidak marah saat ada anak-anak orang lain yang pipis di pangkuan beliau. Kotoran mudah dibersihkan, tapi saat hati anak tergores karena caci maki akan sulit sekali mengobatinya.


...
Ustadzah bercerita, saat beliau mengadakan program pesantren kilat. Ada seorang anak berusia enam tahun yang terus menggandeng tangan beliau. Kemudian dengan bibir kecilnya anak itu bertanya "ustadzah, boleh kan saya menggandeng tangan ustadzah?"

"Tentu boleh sayang, memangnya kenapa?"

"Soalnya, kalau saya gandeng tangan mamah. Mamah suka marah"
"Mamah bilang: Gak usah gandeng-gandeng. MANJA!"

"Saat anak tidak mendapati kasih sayang di rumahnya, mereka akan mencarinya di luar"

5.                   Membangun komunikasi dua arah

“Tanyakan pada diri sendiri, sudahkah menjadi ibu yang baik? Atau hanya menjadi penuntut?”

Diskusikan segalanya dengan anak. Tentu pada kapasitasnya. Jika kita berpikiran “ribetlah, kalau diskusi dulu sama anak. Susah!”

Kita harus ingat kisah Nabi Ibrahim as yang harus mendiskusikan kepada Nabi Ismail tentang perintah menyembelih anaknya. Lebih berat mana?

6.                   Contohkan akhlaq yang mulia

Perlakukan suami dengan baik, sehingga sang anak akan menghormati ayah dan suaminya kelak. 

Perlakukan orang tua dengan baik, sehingga sang anak menghormati orang tuanya. 

Perlakukan anak dengan baik, sehingga kelak ia akan berlaku baik pada anaknya.

“Selama ini contoh apa yang kita perlihatkan?”

7.                   Pilihkan lingkungan yang baik

Orang tua, guru, teman itu dapat memberikan rasa. Rosulullah saw berpesan : “Carilah lingkungannya dulu, baru rumahnya. Carilah temannya dulu, baru jalan”. Karena “al mar-u ‘alad diini kholiilih” (Agama seseorang tergantung temannya)

8.                   Pelajari psikologi anak

Pelajari termasuk tipe manakah anak-anak kita. Ada yang sukanya disayang dengan kata-kata, sentuhan dan ada juga yang senangnya disayang dengan diberi hadiah. Setiap anak berbeda ingin disayangnya. (Kalau saya tipe melow, sama kayak ustadzahnya) hehe

9.                   Do’akan dan titipkanlah anak kita kepada Allah

Kita tak akan mampu menjaga dan membimbing anak kita agar selamat dunia dan akhiratnya. Untuk diri sendiri saja sangat sulit. Untuk itu kita harus minta pertolongan Allah.
Ada seorang sholih ditanya, “wahai syeikh, apa rahasia anak-anak syeikh menjadi baik?”

Sang syeikh bertanya balik “seberapa sering engkau mendo'akan anakmu?”

“Setiap sehabis sholat syeikh”

“Saya mendoakan anak-anak saya setiap kali melihatnya”

Dulu saat ustadzah Halimah mau berangkat sekolah ayahnya selalu meniupkan diubun-ubun beliau sambil membaca do’a “Barokallahu fiik” (Mudah-mudahan Allah memberkahimu). Hingga ustadzah kecil menjadi mudah memahami ilmu.

Ditempat lain, saat ustadzah masih menuntut ilmu di Tarim, Yaman. Beliau dapati angin berhembus kencang sekali. Sementara beliau baru saja selesai menjemur semua pakaiannya. Beliau bingung, karena harus berangkat kajian. Mau dijepit dulu baju-bajunya tapi beliau nggak punya jepitan jemuran. Akhirnya beliau sentuh jemuran itu satu persatu sambil berdo’a “ya Allah hamba titip kepada-Mu” lalu pergi kajian.



Angin sore itu berhembus sangat kencang, ustadzah sudah lesu “yah, terbang semua dah”. Saat kembali ke kosan, beliau langsung cek jemuran. Beliau tertegun. Beliau menangis. “ya Allah betapa baiknya Engkau, sampai jemuran pun Engkau jaga”. Jemuran saja dititipkan ke Allah dijaga, apalagi anak?

Komentar

Postingan Populer