Perempuan, Pakaian, Lelaki dan Pandangan
Suatu hari saya pernah melihat sebuah hal yang langsung membuat saya terdiam sejenak. Termenung. Sebuah insta story dari seorang ibu-ibu yang sedang mengikuti Women March di sebuah daerah car free day di Jakarta. Sebuah kertas karton dengan tulisan “ Aurat Gue Bukan Urusan Lo” dibawah tulisan besar itu tertulis “Stop Victim Blaming, Stop Kekerasan Seksual”.
Hal ini sudah tentu terkait langsung dengan sebuah asumsi yang kontradiktif. Dari pihak laki-laki tertentu akan mengatakan, bahwa mereka terdorong nafsunya karena cara berpakaian wanita itu sendiri. sedangkan dari pihak perempuan tertentu akna mengatakan, mereka terdorong nafsu bukan karena cara kami berpakaian. Tapi, memang karena otak merekanya aja yang ngeres.
Terjadinya kasus pelaporan terhadap seorang aktivis, serta pengiriman DM dari seorang pesepak bola kepada seorang penyanyi dangdut negeri ini, akhirnya saya mencoba bertanya kembali kepada kawan-kawan saya. Lelaki tentunya. Bagaimana pendapat mereka tentang penyataan diatas. Pernyataan dari perempuan dan pernyataan dari laki-laki tertentu tersebut. Salah seorang kawan saya berpendapat. Kalau perempuan berpikir terserah mereka dalam berpakaian dengan kalimat “badan-badan gue. Terserah gue !”. Maka, jangan salahkan kalau laki-laki mengatakan “otak-otak gue! Terserah gue!”. Kawan saya sebelumnya menekankan ia tidak menilai tinggi rendahnya perempuan dari cara berpakaian. Hanya saja ia tidak setuju dengan cara perempuan tertentu membela dirinya seperti itu. Akhirnya ia menutup pendapatnya dengan kembali kepada aturan, bagaimana norma mengatur. Di lain percakapan seorang kawan perempuan saya berpendapat, “ kalau laki-laki tergoda ketika melihat perempuan berpakaian minim, itu wajar. Namun, yang jadi masalah adalah action setelahnya.”
Saat menonton youtube, sebuah wawancara antara presenter ternama dan seorang brand ambasador shampoo, saya kembali mengerut. Keduanya mengamini bahwa perempuan berhak berpakaian sesuai keinginan hati. Mendengarnya terasa seperti ada geluduk berjatuhan di hati saya. Semua orang tentu punya cara masing-masing untuk menghargai diri sendiri dalam berbagai hal. Termasuk cara berpakaian. Saya dengan keislaman saya yang tentu masih sangat jauh dari baik ini-- dalam hal cara berpakaian ini sangat tidak bisa menerima pernyataan tersebut. Sejujurnya meski saya sudah dibiasakan menutup aurat dari sejak kecil. Saya ingat sekali sering berkeinginan keluar rumah, menggunakan topi , celana jeans, kaos lengan pendek yang ujungnya lengannya dilipat sedikit, dan sepatu sneaker. Sudah dapat dipastikan saya langsung dicoret dari kartu keluarga kalau melakukan hal itu. Tapi, yang membuat saya enggan melakukan yang saya bayangkan tersebut adalah bukan karena kemarahan orang tua atau keluarga saya. Atau bahkan masyarakat di sekitar saya. Rasa enggan tersebut murni lahir dari kesadaran bahwa saya seorang yang beragama Islam. Allah menjaga perempuan dengan cara-Nya. Maka, setidaknya meski banyak kasih sayang-Nya yang masih saya ingkari. Dalam hal berpakaian ini, saya harus melakukan sesuai petunjuk-Nya.
Keluarga saya melarang keras perempuan memakai celana panjang. Pokoknya harus pakai rok. Meski Cuma untuk keluar ke warung di dekat rumah. Wih, untuk saya ini ribet banget. Keluarga saya secara turun temurun mengajarkan bahwa celana adalah pakaian laki-laki. Hal ini saya tolak. Meski masih dalam keadaan tertentu saja, saya berani memakai celana panjang. Celana panjang yang saya maksud disini adalah celana panjang yang gombrang tidak ketat. Ukurannya seperti celana bela diri. Celana apa ya itu namanya? Saya lupa. Karena saya tahu bahwa, celana bukanlah pakaian yang diciptakan untuk laki-laki. Selama menutup aurat, sah-sah saja perempuan menggunakan celana panjang sebagai pakaian luar.
Akhirnya semua berawal dari mata. Apa yang nampak selalu menjadi awal dari sesuatu. Jangankan lelaki biasa. Lelaki sekelas Imam Syafi’i pun saat tidak sengaja melihat rok seorang perempuan pun sempat kaget, yang berarti hal tersebut memunculkan sesuatu. Namun, beliau langsung menundukan pandangannya dan beristighfar. Benar adanya, laki-laki yang melakukan pelecehan seksual murni yang bermasalah adalah otaknya. Karena tidak terbiasa menjaga pandangan dan banyak salah konsumsi. Saya sangat prihatin dan geram dengan laki-laki yang merendahkan serta melecehkan perempuan. Dalam berbagai kasus perempuan yang disudutkan dan dibuat enggan untuk membela diri mereka sendiri karena perlakuan aparat penegak hukum. Hanya satu yang ada dipikiran saya saat ini, sebagai manusia baik laki-laki maupun perempuan sangat penting untuk saling menghormati, menyayangi, menghargai diri sendiri dan orang lain. Apalah arti kepuasan, kalau terus melanggar kasih sayang-Nya melalui petunjuk-petunjuk-Nya.
“Perbedaan pendapat akan selalu ada dan perbedaan itu harus dihargai”
“Menghargai adalah saling mendengarkan dan mengingatkan”


Miris melihat kejadian seperti itu. .
BalasHapusTapi gw setuju kalo cewe bilang "aurat gue bukan urusan lo" laki2 juga bisa bilang "pikiran, pikiran gue, ya. . Terserah gue". sebaiknya berpakaianlah sesuai dengan keyakinan yg di imani, dan sesuai dengan budaya setempat. Menurut saya, masalah berpakaian bagi perempuan untuk melindungi dirinya. Fikiran laki-laki seperti apa tanda kutip negatif, tergantung data based di dalam pikirannya itu sendiri dan bagaimana ia menyikapinya. Karena, wanita yg berpakaian tertutup. Tak menutup kemungkinan, untuk laki-laki bisa berfikir tak baik.
asal Emas yg menawan tertutupi tanah, tak mudah orang melihatnya. Jadi,menurut gw aurat harus di tutupi. krn ia berharga, tak boleh sembarang orang dpt melihatnya. Wallahu a'lam