Kisah Sayyidah Maryam
Selalu ada hal baru bagi saya, setiap kali Ustadzah Halimah bercerita.
Dimulai dengan
kisah saat sayyidah Maryam kecil. Rosulullah saw berkata: pemimpin perempuan
di surga ada empat, sayyidah Maryam, Asiyah, Khodijah dan Fathimah. Ia
dimuliakan Allah dengan diabadikan namanya menjadi salah satu nama surat dalam
al-Quran. Sayyidah Maryam adalah anak dari Imron dan Sayyidah Hannah. Saat
kecil Sayyidah Maryam diasuh oleh Nabi Zakaria sahabat Imron. Imron sendiri
adalah seorang nabi. Ustdzah Halimah menyampaikan, pelajaran pertama yang dapat dari kisah sayyidah Maryam
saat kecil adalah dari orang tua yang sholeh akan lahir anak yang sholeh.
Maka, saat memutuskan untuk menikah kita harus memantaskan
diri menjadi pribadi yang sholehah kemudian insya Allah akan menikah dengan pasangan yang sholeh. “ya,
saya nikah..lumayan jadi ada yang nafkahin, kurang-kurangin beban orang tua”
Jangan niat seperti itu. Atau nikah hanya sekedar karena teman-teman udah pada
nikah. “ya, saya mah nikah. Yang penting sama laki-laki. Udah ada yang datang
aja udah untung, daripada jadi perawan tua”. Ya Allah sedih amat ya. Walau sedih, kita harus ingat, menikah harus dengan niat yang agung untuk beribadah,
memperbanyak generasi yang mengabdikan hidup kepada Allah. Bukan karena udah dituntut omongan orang. Yang penting terus berdo'a dan terus belajar memperbaiki diri. ^^
***
Pasangan Imron dan Hannah menikah. Namun meski sudah lama menikah tak kunjung dikaruniai seorang anak. Waktu terus berjalan, akhirnya Hannah merasakan
tanda-tanda kehamilan. Yang ada dipikiran Hannah bukan tentang diri sendiri, “akhirnya
bakal ada yang nemenin saya, akhirnya ada yang bakal ngurus saya pas tua,
akhirnya dan akhirnya yang lain”. Anak dalam kandungan yang sudah lama ditunggu
itu, langsung diniatkan oleh Hannah untuk Allah, “Robbi inni nadzartu laka maa
fii bathnii”.
***
Anak-anak yang diniatkan untuk Allah akan tumbuh
menjadi pribadi yang dengan apapun profesi mereka kelak, pasti akan digunakan untuk berkontribusi
di jalan Allah, jalan kebaikan. Dalam hal apapun bila kita niatkan karena Allah
pasti akan jadi layaknya pro. Menjadi guru, bukan karena gaji. Terlalu kerdil
bila kita menjadi guru hanya untuk gaji. Menjadi Dokter, polisi, seniman,
ilmuan, pengusaha, dll bukan karena uang ataupun nama besar. Bila semua itu
benar-benar karena Allah pasti diri kita akan dituntun Allah untuk memberikan
yang terbaik. Jadi, kalau dalam proses meraih cita-cita kita bermalas-malasan,
maka niat kita untuk mengabdikan tercapainya cita-cita untuk Allah terlalu
kecil.
***
Ahli tafsir ada yang mengatakan diawal kehamilan dan
ada juga yang mengatakan diakhir kehamilan suaminya meninggal dunia. Namun “alaa
innal auliyaa Allah laa khoufun ‘alaihim walaahum yahzanuun”. Para kekasih
Allah sudah terpasang ‘anti stress’. Gak ada rasa takut “siapa yang nanti akan
menafkahi anak ini?” “nanti hidup saya gimana?” atau rasa takut lainnya.
Awalnya dikira, yang akan lahir itu anak laki-laki. Karena
yang ada dipikiran anak itu kelak akan jadi penjaga Baitul Maqdis dan akan menjadi
seorang nabi. Sudah dijaga anak itu oleh sayyidah Hannah sejak dalam kandungan.
Tapi yang lahir ternyata anak perempuan. Nah, pada saat itu Allah ingin
mengajarkan kepada kita semua. Bahwa laki-laki dan perempuan memang berbeda,
tapi keduanya sama-sama bisa menempuh jalan kemuliaan. Saat anak itu lahir
Hannah berdo’a “wainnii u’iidzuha bika wadzurriyyataha minasy syaithoonirrojiim”.
Maryam kecil Allah terima sebagai hamba-Nya. “Fataqobbalahaa
bi qobuulin hasanin fa ambatahaa nabaatan hasanan”. Allah terima Maryam, dan
ditumbuhkan oleh-Nya benih-benih kebaikan dalam hati Maryam. Untuk mendapatkan
anak yang baik, dibutuhkan proses yang baik dari orang tua. Dimulai dari cari
pasangan, proses kehamilan, sampai
seterusnya.
***
Ustadzah bercerita, ada seorang anak berumur lima
tahun yang memiliki akhlak baik. Baik kepada orang tuanya, mencintai
orang-orang berilmu, sholat lima waktu full, kalau ikut pengajian suka
mendengarkan dengan baik dan sibuk menulis, meski entah apa yang ditulis. Sampai-sampai
orang tuanya bilang “saya sendiri sering mikir, perasaan gak pantes orang kaya
saya punya anak kaya gini”.
“Pasti ada sesuatu yang kamu lakukan saat masa kehamilan,
karena pasti ada sebab anakmu berakhlak baik” tanya ustadazah.
“iya ustadzah, waktu saya hamil. Setiap malam suami
saya membangunkan saya tahajud. Katanya ayo kita sholat, do’akan anak kita”
(penulispun baper)
***
Maryam dikenal sebagai anak yang menyenangkan. Banyak orang
yang ingin mendidik Maryam. Orang-orang berebutan supaya bisa mengasuh dan
mendidik Maryam. Sampai-sampai diadakan undian. Orang-orang yang ikut adalah
orang-orang yang berpendidikan, bisa baca tulis, ahli kitab. Meski saat itu
masih jarang orang yang bisa baca-tulis. Penentuan yang mendapatkan izin
mendidik Maryam dilakukan dengan menyelupkan pena ke air. Siapa yang pena-nya
melayang dialah yang terpilih. Saat itu pena Nabi Dzakaria yang melayang. Oleh karena
itu Maryam diasuh dan dididik oleh Nabi Zakaria.
***
Maryam tumbuh menjadi ahli ibadah. Ia tinggal di
Baitul Maqdis lantai atas. Suatu ketika, saat Nabi Zakaria ingin mengirimkan
makanan. Tapi, kok aneh. Di depan Maryam sudah ada banyak makanan. Nabi Zakaria
pun bertanya “Nak, kamu dapat buah-buah ini darimana?”
“Dari Allah” jawab Maryam.
“iya, saya tau semua memang dari Allah. Tapi ini
darimana?” tanya Nabi Zakaria lagi.
“Saya tadi berpikir, ya Allah kayaknya makan buah ini
enak. Lalu usai sholat buahnya ada” jawab Maryam lagi. Innallaha yarzuqu man
tasyaa.
Mendengar hal tersebut Nabi Zakaria mengangkat tangan “Ya
Allah karuniakanlah saya anak seperti Maryam”
***
Tibalah suatu masa, Maryam mendapatkan menstruasi. Karena ia
tinggal di masjid, saat haidh Maryam tinggal ditempat Asiyah, bibinya. Memang kemana ibunya? Ibunda
Maryam sudah meninggal saat Maryam kecil.
Suatu hari saat dijalan menuju rumah Asiyah, dan
berhenti disebuah tempat untuk beristirahat, ada seorang laki-laki tampan yang
menghampirinya. Tampan rupawan, oppa-oppa mah lewat. Sebagai seorang perempuan,
Maryam pun terpesona. Tapi, sayyidah Maryam berdo’a “Aku berlindung kepada
Allah menjaulah kamu dariku, jika kamu adalah seorang lelaki yang bertaqwa”. Lelaki
itu bukan menjauh, malah semakin mendekat.
“Jangan takut Maryam, aku adalah utusan Allah. Aku
diutus oleh Allah, untuk meniupkan ruh dalam rahimmu” jawab malaikat Jibril.
“Gimana aku bisa punya anak?! Saya tidak pernah
bersentuhan dengan laki-laki?” Maryam kaget dan bingung. Seketika itu Maryam
hamil. Tanpa melalui satu bulan, dua bulan, tapi langsung sembilan bulan, yang sudah
waktunya lahir. Maryam sontak panik. Ia langsung berjalan sembunyi-sembunyi
menuju Betlehm di waktu orang-orang berada di dalam rumah. Maryam duduk di
bawah pohon.
Tibalah waktu melahirkan. Di bawah pohon itu ia
berkata “kayaknya lebih mudah kalau saya mati aja sekarang. Tapi kalau saya
mati sekarang, saya pasti akan dilupakan begitu saja” sedih sekali perasaan
Maryam saat itu.
“Fanaadaaha min tahtiha” Allah kemudian memanggil dari
bawahnya. “allaa tahzanii” jangan sedih Maryam Aku bersamamu. “Apa yang kamu
takutkan? air, makanan?” Seketika itu Allah alirkan air dan pohon tempat ia
berteduh tumbuhlah buah kurma yang siap untuk dimakan dan Nabi Isa pun lahir
kemuka bumi.
Tiada yang tidak mungkin bagi Allah. Semua sangat
mudah. Sangat mudah bagi Allah.
Catatan: Rangkuman ini tidak sepenuhnya sama dengan
kalimat yang ustdzah Halimah sampaikan. Kurang lebihnya ini yang saya pahami.
Semoga bermanfaat (^^)>
Kajian Bidadari Bumi UIN Syarif Hidayatullah
Jum’at, 8 Maret 2019



Kangen Ustazah :(
BalasHapus