Memiliki Kehilangan
Saya bukan penggemar penyanyi tertentu. Saya menikmati lagu karena saya merasa bisa menikmatinya. Sebait lirik dari lagu yang berjudul Memiliki Kehilangan dari Letto di atas, membuat saya merenungi banyak hal. Sekurangnya tentang rasa kehilangan atas kenikmatan beribadah. Saya sadar, kita semua terbelenggu dalam dosa masing-masing. Salah satu cara Allah menegur, dicabut oleh-Nya rasa kenikmatan dalam beribadah.
Sendiri di sebuah kamar, sendiri dalam pikiran. Saya bergumam dalam hati “Aku ingin jadi orang baik. Tapi apakah harus Islam ?”. Saya berpikir seperti itu, karena sudah lama sekali saya tidak merasakan apa-apa dalam sholat. Kurang lebih dua tahun. Semua hanya gerakan dan bacaan untuk saya. Saya merasa malas, tapi enggan untuk meninggalkan. Entah apakah karena rasa takut atau karena sudah terbiasa melakukan. Saya tidak tahu. Apalagi kalau shubuh, ya Allah…itu sampe lupa sagala. Keingetan kasur, karena ingin lanjut tidur. Ngantuk. Akibat begadang yang seringnya karena hal yang kurang bermanfaat. Saya merasa ada yang hilang, tapi susah juga untuk memiliki lagi.
Sebagai manusia yang kini merasa adiktif dengan youtube, tiba-tiba muncul video tentang kenapa kita sholat. Saya lupa siapa yang ada dalam video tersebut. Kemungkinan tiga sosok. Nouman Ali Khan, Ustadz Adi Hidayat, atau Gus Baha. Tiga sosok yang belakangan ini saya sering simak. Isi videonya kira-kira begini: “Kita sholat sebagai pengingat. Bahwa kita adalah makhluk dari Kholiq, Sang Pencipta.” Hanya itu yang saya ingat. Saat itu saya merasa hati saya mulai merasa ingin sholat. Sholat yang ada rasanya. Karena sedang haidh, saya harus menunggu.
Di lain hari ketika sedang masak agar. Tangan saya mengaduk, hati saya menggalau. Saya bingung kenapa sulit sekali untuk saya mengamalkan sholawat. “Ya Allah jika hamba terlalu menjijikan untuk bersholawat, mohon maafkan hamba. Izinkan hamba untuk bisa mengamalkannya”, begitu hati saya bergumam. Alasan saya ingin bisa merutinkan sholawat karena alasan ekonomi. Saya tengah ada dalam situasi berusaha mendapat murid TK untuk tahun ajaran baru. Yang saya pahami kalau anak TK yang masuk mencapai target akan berdampak pula pada murid yang mengaji di Yayasan. Jadi posisi keadaan TK sangat penting untuk keberlangsungan Yayasan. Dari berbagai sumber dan beberapa pengalaman, sholawat memiliki dampak tersendiri yang saya Yakini. Tapi yang terjadi saat ini pada saya, meskipun tahu dan yakin tentang itu. Saya merasa kesulitan untuk rutin membaca sholawat. Begitu pun berdo’a. semua nggak ada rasanya. Jadi bawaannya pengen cepat selesai.
Rentang satu atau dua hari, setelah ngobrol dengan seorang teman. Saya merasa mulai ada harapan untuk saya. Bisa sedikit demi sedikit merasakan yang tengah hilang. Yang saya ingin temukan lagi. Setiap kali dalam masa sholat yang nggak ada rasanya, ada do’a yang selalu saya panjatkan dalam sujud terakhir, “Ya Allah jadikan di dalam hati hamba cahaya. Tunjukkan kami ke jalan yang lurus”. Saya merasa do’a itu yang ibaratnya menjadi antibodi untuk saya, untuk tidak terus terlena hilang keluar jalur. Sambil menunggu masa suci haidh, saya meletakkan tasbih counter di jari. Cara ini cukup efektif untuk saya. Sore hari, saya ketemu video. Tentang waktu tidurnya Rosulullah saw. “Kita nih aneh, sebutir nasi yang jatuh kita anggap mubadzir. Tapi, ketika kita tidak menggunakan usia dalam hidup dengan baik, kita nggak ngerasa kehilangan apa-apa. Tidak merasa mubadzir.” Begitu pembukaan videonya. Intinya, sebagai umat kita sering melakukan hal yang berkebalikan dengan Rosulullah saw. Waktunya tidur, kita melek. Waktunya melek, kita tidur.
Malam tiba, saya bertekad tidur sebelum pukul 09.00. hahaha. Ternyata sulit. Meskipun sudah nempel kasur, mencoba membaca buku dan menjauhkan HP, tetap saja akhirnya tidur pukul sebelas lewat.
Shubuh pun datang, saya bersuci dari haidh. Saya merasakan hal yang berbeda dari sholat shubuh hari itu. Di otak saya sudah tidak ada kasur. Tidak terpikir untuk tidur lagi usai sholat. Saya mengambil alat tulis usai sholat. Melanjutkan belajar. Saya merasa tenang. Meskipun saat mengajar, saya merasa agak pusing. Mungkin karena waktu tidur yang tidak baik. Saya bergumam lagi dalam hati “ Ya Allah mohon istiqomahkan hamba dalam kebaikan”.
Jujur sulit rasanya. Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Terjebak dalam berbagai macam hal. Udah tahu dan sadar buruk, kenyataan tetap tidak semudah itu lepas. Kita semua terjebak dalam varian dosa masing-masing. Sebuah cuplikan dari video Gus Baha yang baru-baru ini saya dengarkan mengetuk logika sesat saya. Apa yang Allah perintahkan pasti ada hikmahnya. Kalaupun ada hasil penelitian tentang manfaatnya. Jangan jadikan itu tujuan utama. Tetap yakini bahwa yang Allah perintahkan pasti ada hikmahnya. Kalau kita berpikir, kenapa sih Islam larang banyak hal. Coba deh, kalau misalnya Allah wajibkan kita untuk zina. Repot pasti. Zina wajib lima kali sehari. Repot banget pasti. Harus mikirin gimana bayarnya. Belum lagi kitanya mau, yang dizinai belum tentu mau. Sudah betul sholat. Mudah, tidak repot. Kita mengeluh banyak Islam banyak aturan. Wong, kalau berbuat dosa kan juga gitu. Mau zina dengan perempuan cantik atau lelaki ganteng pun banyak aturannya. Mulai dari aturan biaya yang mahal yang harus dipenuhi. Begitu pula mabuk. Kalau mau dapat minuman keras yang berkualitas harus keluarkan uang yang banyak, nunggu waktu dan tata cara minumnya yang tentu ada aturannya agar terasa. Itupun kenikmatan yang dirasakan semu. Orang mabuk sudah pasti hilang kesadaran. Untuk itu orang yang ada iman dalam hatinya. Di kasih sholat. Sholat dilaksanakan dengan kesadaran penuh. Ketenangan dan rasa nyaman yang dirasakan dalam hati pun dirasakan dengan sadar. Kurang lebih itu yang saya dapatkan dari video ceramah Gus Baha di youtube. Saya dapat melalui keyword Ceramah Gus Baha di Korea.
Teman-teman mari saling mendo’akan dalam kebaikan.
Semoga bermanfaat.
Bekasi, 14 Januari 2022


Aamiin, semoga selalu di bolak balikkan jalan yg lurus
BalasHapus