Tips Membuat Proses Belajar Menjadi Aktif
Salah satu masalah dalam proses belajar bersama anak-anak yang sudah memasuki usia 9 tahun sampai remaja bahkan dewasa di Indonesia pada umumnya adalah siswa tidak berani atau tidak tertarik untuk bertanya atau sekedar untuk berpendapat terkait apa yang telah dibahas dan mencoba untuk mengaitkan dengan apa yang sudah mereka alami atau saya memahaminya sebagai connecting the dots. Sehingga saya menemukan banyak momen dimana kelas menjadi pasif. Dampaknya pembelajaran menjadi kurang efektif. Yang membuat saya bingung adalah mengapa saat mereka TK, mereka bisa menanyakan banyak hal dan belajar dari hal-hal sederhana yang dekat dengan mereka tanpa rasa ragu dan takut. Namun, saat sudah memasuki tingkat SD dan seterusnya seolah kemampuan tersebut lenyap dimakan pengalaman. Mungkin terlalu banyak pengalam yang akhirnya berakibat pada terkuburnya kemampuan tersebut. Entah dari interaksi dengan keluarga, guru, ataupun diejek dan dibuli teman sebaya karena aktif di kelas. Hal ini menjadi semakin sulit karena saya kurang merasa terkait. Karena saat sekolah dulu, saya selalu aktif meskipun di bully guru, orang tua, dan teman, saya tetap yakin bahwa mempertanyakan sesuatu dan berpendapat bukanlah hal yang salah. Beberapa metode saya sudah coba terapkan. Beberapa mungkin memperburuk keadaan. Saya menyadari itu dan saya menyempaikan hal tersebut kepada para murid. Akhirnya saya memutuskan untuk melakukan hal yang akan saya jelaskan lebih rinci di paragraf selanjutnya.
Hari ini saya mecoba bereksperimen dengan cara yang proses untuk dapat idenya panjang namun idenya datang secara tiba-tiba diwaktu yang tepat. Berikut langkah-langkah yang saya ambil:
1. Memahami tujuan. Tujuan saya menggunakan metode ini adalah untuk membuat proses belajar menjadi lebih aktif dan terpusat pada murid serta membantu menumbuhkan rasa percaya diri pada murid secara bertahap.
Kemudian langkah-langkah apa yang saya ambil?
2. Mengirimkan materi yang ingin dibahas dan memberi keterangan poin-poin yang bisa membantu mereka untuk menemukan hal-hal yang dibutuhkan. Disini saya mengirimkan satu video berdurai 18 menit yang pematerinya adalah bang Sabda PS dari Zenius tentang "Cara Belajar yang Efektif". Saya mengirimkan video tersebut di pagi hari beserta 5 hal yang bisa membantu mereka lebih memahami materi tersebut.
3. Jujur kepada para murid. Kelas ini berlangsung setiap hari minggu setelah maghrib. Sebelum masuk kepada diskusi secara personal, saya menyampaikan kepada mereka bahwa hari ini saya menangis karena gagal lolos seleksi kerja. Saya sampaikan pada mereka apa penyebabnya dan bagaimana saya menyikapinya. Setelah itu saya sampaikan bahwa hari ini saya mencoba menyimak beberapa diskusi tentang pendidikan Indonesia. Saya sampaikan pada mereka bahwa sebenarnya saya mengalami banyak kesulitan dalam proses untuk membantu mereka untuk menjadi lebih aktif dalam belajar. Saya juga menyampaikan pada mereka bahwa saya benar-benar serius ingin membantu mereka untuk bisa memaksimalkan kemampuan mereka. Dalam hal cara berpikir. Meskipun saya sendiri, masih sering gagal paham dan mengalami banyak kesulitan dalam hal ini. Sehingga saya memutuskan untuk berjuang bersama mereka. Saya sampaikan, "Gak apa-apa kita masih banyak bodohnya. Ayo, kita sama-sama berusaha untuk lebih baik. Kita hadapi sama-sama. Bukan kabur".
4. Menulis sedikit materi tambahan di papan tulis. Mereka menghafalkannya dalam bahasa Arab dan terjemahnya dalam bahasa Indonesia. Saya mengambilnya dari kitab Ta'limul Muta'alim atau dalam bahahsa Indonesia berarti "Panduan Cara Belajar". Saya mengambil bagian dari kitab tersebut yang terjemahannya "Proses belajar bisa terjadi dari setiap orang" dan percakapan Abu Hurairah dengan seseorang, "Bagaimana cara anda belajar?" tanya seseorang penasaran. Abu Hurairah menjawab, "dengan lisan yang bertanya dan kalbu yang berpikir."
5. Tanya satu persatu. Memberi ruang kepada mereka untuk perbendapat tentang dua hal tersebut. Makna dari bahwa kita bisa belajar dari siapapun serta pentingnya bertanya dan berpikir. Jadi, usai mereka setoran hafalan, saya bertanya "menurut kamu kalimat ini maksudnya apa?"
6. Mendengarkan dan menyimak dengan antusias. Kebanyakan dari mereka kaget karena setoran hafalannya harus disertai pemahaman masing-masing. Akhirnya diskusi pun dengan sendirinya tercipta. Mereka saling membantu teman yang lain untuk memahami konteks dengan pemikiran dan contoh dari kisah masing-masing. Saya rasa di situasi ini mereka merasa aman dan nyaman. Tidak merasa terintimidasi oleh apapun. Satu persatu mereka mengemukakan pendapat mereka secara bergantian pada saya. Untuk beberapa anak yang masih belum memahami konteksnya kemudian saya bantu dengan menemukan kata kunci dari materi yang sedang dibahas. Saya bisa melihat dan merasakan meskipun harus mencoba lagi, mereka senang melakukannya. Saat itu pula saya menyadari bahwa, rasa aman itu penting. Dan mungkin dalam kasus siswa Indonesia yang sudah terbiasa dengan budaya belajar pasif pendekatan ini bisa efektif dalam rangka menumbuhkan rasa percaya diri terlebih dahulu. Yang kemudian pertanyaan selanjutnya bagaimana cara yang efektif untuk membantu mereka untuk percaya diri dan terus punya rasa ingin tahu yang tinggi atas sesuatu yang bermanfaat (bukan pada urusan orang lain) di kelas yang sifatnya tidak satu persatu.
7. Menanyakan perasaan mereka. Saya bertanya apa yang mereka rasakan setelah mencoba memahami hal yang dekat dengan mereka dan menarik benang merah dengan hal yang sedang dipelajari. Beberapa ada yang merasa lega bisa menyampaikan pendapat, beberapa ada yang menjadi sadar, "oh ternyata saya bisa ya". Karena biasanya kalau dilempar ke forum terbuka dikelas mereka akan mengandalkan teman yang aktif. Sisanya pasif.
8. Memberikan apresiasi. Saya menyampaikan pada mereka bahwa saya takjub dengan apa yang mereka sampaikan pada saya dan saya juga belajar banyak hal malam ini dari mereka. Diakhiri dengan kalimat yang diambil dari video bang Sabda. Jadi, dalam belajar kita bisa mulai dengan keyakinan bahwa "Aku bisa kok".
Kesimpulan, untuk membantu anak-anak yang sudah terbiasa dengan cara belajar pasif adalah dengan memberi mereka ruang diskusi aktif yang mana mereka merasa aman dan nyaman. Yaitu dimulai dengan menanyakan satu persatu, menyimak dengan seksama, dan membantu dengan memahami kata kunci dari materi yang dibahas. Kedepannya bisa secara bertahap dengan diskusi terbuka.
Saya sampaikan pada mereka bisa jadi apa yang saya tangkap juga belum tepat. Tapi, setidaknya kita sudah sama-sama berusaha dan saling paham satu sama lain. Nanti kalau ternyata ada yang masih perlu dikoreksi, kita bahas sama-sama.
Bonus:
Beberapa hal yang saya ingat dari murid-murid. Btw, mereka panggil saya "Teteh" atau dalam bahasa Indonesia berarti "kakak perempuan"
1. "Jadi teh, dari kalimat ini yang saya pahami adalah bahwa proses belajar itu bisa terjadi dengan siapapun. Contohnya di sekolah ada teman saya yang dibully karena dia non muslim. Saya tapi tidak ikut bully dia. Saya memilih berteman dengan dia. Kemudian saya tanya ke dia bagaimana pendapatnya tentang perlakuan bully yang dia dapat. Dia jawab saya mau fokus dengan pengembangan diri saya sendiri. Saya tidak mau fokus dengan teman-teman yang bully saya. Dari situ saya belajar, bagaimana menyikapi orang yang suka bully."
Jujur saya disini kaget. Ternyata masih ada manusia yang musuhin orang lain cuma karena beda agama. Saya jadi tahu kenyataan di lapangan diantara remaja.
2. "Saya kan lihat teman saya punya usaha ya teh. Terus saya penasaran gimana caranya jualan seperti dia. Terus dia ajarin saya gimana caranya jualan online. Saya mulai deh dengan jual baju bekas saya di beberapa platform. Alhamdulillah ada yang beli dan dapat untung teh. Terus saya mulai dengan beli barang baru dan saya jual deh dengan harga lebih dengan sistem COD. Eh, yang beli rumahnya jauh. Jadinya saya tanya lagi ke teman saya kalau kayak gini harus gimana. Dia langsung anter saya ke tempat kirim barang. Jadi, saat saya sudah di lokasi dan dapat resi untuk kirim barang orang yang beli langsung kirim uangnya."
Wah, saya takjub. Mereka sudah ada yang mulai usaha mandiri. Dan sampai sekarang dia masih menekuni usaha ini. Saya belajar hal baru lagi disini
3. "Di kelas kan ada anak yang pintar dan bodoh ya teh. Nah, pas pelajaran Matematika, si yang bodoh ini gak ngerti. Akhirnya dia nanyalah sama yang pintar untuk dijelasin ulang. Karena kalau dijelasin guru suka terlalu cepat"
Dari sini saya belajar sesuatu, adakalanya mereka bukannya tidak bisa. Namun, cara yang kita gunakan kurang tepat untuk beberapa anak.
4. "Jadi kan ya teh, saya punya temen. Anaknya pendiam. Dia dilabelin sebagai 'beban' sama teman-teman saya setiap kali kerja kelompok. Karena anaknya pendiam. Dia nggak pernah nanya kalau ada tugas. Tapi, kalau dikasih tahu tugasnya apa, dia kerjain. Akhirnya saya bilang deh ke dia. Supaya belajar interaksi sama orang dan aktif bertanya."
Disini saya tanya kepada anak yang cerita, "sebelum kamu kasih solusi ke teman kamu, kamu tanya dulu nggak kenapa dia suka diam aja?" dia jawab "nggak teh". Nah, baiknya sebelum beri solusi, kita coba cari tahu dulu nih, "apa ya penyebabnya?".


Komentar
Posting Komentar