Adaptasi (DAY- 4&5)
DAY-4
Masih sulit bagi saya membedakan Santoso dan Aby. Seperti hari pertama, dengan semangat saya panggil Santoso, “Aby”. Sepertinya mereka agak mirip tapi mungkin tidak. Ahaha
Ngomong-ngomong tentang Aby. Pagi tadi di dekat jendela bagian playground Aby mencubit pipi saya sambil bilang, “gemesshh”. Kok, jadi Aby yang gemes. Kan saya udah lewat usia gemes. Aby ulang cubit pipi saya tiga kali sambil mengucapkan hal yang sama.
Akhirnya saya melanjutkan cerita ini di hari Sabtu. Apa yang saya ingat? ~~~
Ah! Iya tentang Fathan. Ia adalah adiknya Faiz. Saya masih ingat betul saat pertama kali Faiz sekolah. Usia kurang dari 4 tahun. Saat itu Faiz sekelas dengan Gerhana. Keduanya sama-sama masih harus di tungguin sampai jam sekolah usai. Apakah hal itu mudah? Tentu saja tidak. Penyebab Faiz menangis bila tidak ditunggu adalah karena saat mengaji sore ia dibohongi. Faiz mengizinkan yang mengantar untuk pergi isi bensin. Tapi, sebenarnya itu hanyalah trik bohong dari yang menunggu Faiz. Sehingga Faiz nangis dan takut. “Kok isi bensin lama sekali.” Begitulah kira-kira. Pelajaran yang di dapat apa?
Kembali lagi ke Fathan. Hari pertama sekolah Fathan terlihat bisa beradaptasi. Fathan ikut kelas dimulai hari Rabu. Karena awalnya Fathan akan mulai sekolah di tahun depan. Namun, karena satu hal jadilah Fathan ikut trial class. Bukan hal yang mudah bagi Fathan untuk beradaptasiselain usianya masih sangat muda, secara fisik Fathan pun palin imut diantara teman-temannya. Sehingga Fathan terlihat bingung untuk gabung dengan siapa. Rasa kesepian karena belum bisa terkoneksi dengan teman-teman pun Fathan luapkan di hari Kamis. Saat saya melihatnya di tempat mandi bola, Fathan biasa dipanggil Athan sedang menundukkan kepalanya diantara bola-bola kecil berwarna warni. Intuisi saya langsung memeberi saya signal. "Athan menangis kenapa?", begitu tanya saya kepada Athan yang kemudian mengangkat kepalanya perlahan sambil menutupi pipinya yang basah dengan air mata. Saya langsung mengajak Athan keluar dari kolam mandi bola dan coba menenangkannya. Bagi saya ketika melihat anak-anak menangis tanpa suara rasanya menyakitkan. Menangis tanpa suara melibatkan banyak emosi. Menangis tanpa suara mengingatkan saya akan diri saya yang dipaksa keadaan untuk menahan sakit di dada karena kalau menangis dengan suara dianggap malu-maluin. Sehingga saat saya melihat Athan menangis tanpa suara otak saya langsung mengarah pada "trauma". Apakah ada trauma? namun saat saya bertanya pada kakak Fathan--Fafa, ia bilang kalau di rumah Fathan bisa menangis dengan suara yang kencang. Hmmm... berarti kemungkinan Fathan secara natural mencoba memahami sekitar. Dia paham bahwa dia tidak di rumah, dan belum merasa aman untuk mengeluarkan emosinya.
Sambil duduk dan di puk-puk, saya mencoba mengajak Athan bicara, "Athan kenapa menangis?"
"Mau bunda", begitu jawab Athan sambil mengusap air matanya yang terus mengalir.
"hmmm...kalau kita pulang sekarang, bunda ada di rumah tidak?"
Athan menggeleng. "Sekarang Athan sama bu guru dulu ya. Bu guru temenenin Athan"
Fathan masih mencoba menenangkan dirinya. Saya mencoba mengajaknya bermain bersama teman yang lain. Fathan anak yang hebat. Sekecil itu mencoba untuk mengontrol dirinya di tempat umum. That's not easy. Ada hal yang saya sadari, saya lupa untuk bertanya kepada Athan tentang perasaannya. Lupa konfirmasi apakah Fathan merasa kesepian atau ada hal lain. Hmmmh....~~ Di hari itu saya rasa kondisi saya pun sedang kurang fit. Rasanya lesu dan lemas. Entah lelah karena apa. Belakangan ini saya agak kesulitan untuk tidur dengan baik. Mungkin itu penyebabnya. Meskipun jam tidur saya tetap sama. Sebelum jam 10 malam.
Sebelum membaca do'a pulang sekolah, Haura yang duduk di samping Fathan tiba-tiba tersenyum dan berkata, " Dia pintar ya bu guru", sambil menunjuk ke Fathan.
Saya langsung menanggapi tanpa melebih-lebihkan. "Athan, kata kaka Haura Athan pintar. Athan berani sekolah sendiri." Fathan tersenyum imut sekali.
Anak-anak menghadapi hari-hari yang bagi mereka adalah hal baru. Sama seperti kita orang dewasa, bukanlah hal yang mudah untuk masuk ke dalam lingkungan yang baru apalagi dengan beberapa perbedaan. Butuh waktu bagi beberapa anak untuk beradaptasi. Anak-anak bu guru kerrrreeen. Begitu pula seperti yang saya tulis di cerita hari pertama. Setiap tahun saya deg-degan dan khawatir setiap kali hendak menghadapi tahun ajaran baru. Saya yakin guru-guru yang lain pun begitu.
Hari itu diakhiri dengan evaluasi guru yang ke tiga. Kami mengevaluasi kegiatan dan kinerja sambil sharing. Hal yang menjadi rutin bagi kami untuk terus memperbaiki diri.
DAY-5
Jum'at menjadi hari dimana semua anak membawa bekal. Beberapa memakan bekalnya dengan lahap, beberapa tidak. Beberapa sibuk menanyakan, makanan dan minuman tersebut sehat atau tidak. Beberapa menunjukkan isi bekal mereka.
"Bu guru, sosis dan nugget sehat tidak?"
Santoso dengan wajah polosnya membawa air mineral sambil berkata," bu guru, kalau air putih sehat ya? harus minum air putih ya?"
"Bu guru, lihat bekal aku. Ada wortel dan ini apa namanya bu guru?" sambil menunjuk ke potongan buncis.
Beberapa ada yang menunjukkan makanannya sudah mau habis.
"Wah, Kiki makannya hebat. Sudah hampir habis."
Ada juga yang sibuk bercerita dan bertanya, sehingga bekalnya tidak kunjung di masukkan ke mulut.
Ada juga yang tidak mau memakan bekalnya.
Jangan tanya tentang nasi dan lauk yang ikut menghiasi lantai disekitar mereka. Biasanya anak-anak akan kami ajak untuk merapihkan bersama. Disini anak-anak belajar bertanggungjawab. Meski tentu tetap harus dibersihkan lagi oleh guru-guru setelah mereka kembali ke rumah. Karena lengket dan minyat menyatu. PR setiap hari Jum'at. ('v')/
Kali ini saya sedang ter Aby-Aby. Karena Aby suka ada di dekat saya. Aby tidak ikut sholat dhuha bersama teman-teman, saat diajak ke dalam katanya "bu guru tidak di dalam", sambil menunjuk ke arah saya yang sedang menemani Athan. Berdasarkan evaluasi guru Athan kemungkinan kesepian dan masih proses beradaptasi, jadi saya bertugas untuk menemani Athan. Begitu juga memonitor anak-anak lain yang ada di sekitar area bermain. Hari jum'at Athan menangis lagi. Namun kali ini, Athan bilang Athan ingin ayah. Kepala saya di hari itu tidak tahu sedang kenapa. Sudah terasa pusing sejak mengajar anak-anak shubuh. Kemungkinan karena hari kamis saya minum es teh 4 hirup. Sangat sedikit tidak sampai 1/8 gelas. Tapi, ya begitulah saya.
Kembali lagi ke Aby. Aby membaw bekalnya ke area bermain. Meminta saya untuk membuka tas bekalnya. Isinya ada nasi, sayur sop, 4 buah nugget, dan kentang goreng. Naya yang melihat itu langsung mengambil kentang Aby. Naya makan dengan cepat. Kata Aby "tidak apa-apa bu guru. Naya belum mengerti". Saya tersenyum bangga dengan Aby. Akhirnya setelah diberi izin oleh Aby, saya memindahkan wadah bagian atas berisi kentang dan dua buah nugget ke dekat Naya. Naya makan dengan lahap. Sementara Aby sibuk menyuap nasi yang kemudian agak tumpah-tumpah karena tidak fokus. Setelah Naya menghabiskan kentang goreng dan nugget Aby dengan sendirinya menawarkan Naya untuk minum. Dia membuka tutup botol miliknya dan membantu Naya untuk minum. Wajah Aby, saya tidak bisa menggambarkan dengan kalimat. Namun, hal itu sangat manis sekali. Saya kagum dengan sikap Aby.
Di sekolah kami melatih anak-anak untuk menggunakan kata-kata dasar dalam bersosial. Seperti ; Terimakasih, Maaf, Tolong, Sama-sama, Permisi, begitu pula mengucap salam. Kiendy, belum terbiasa untuk mengucapkan 'tolong' saat meminta bantuan. Jadi, saat Kak Ais mengarahkan Kiendy untuk mengucap tolong otomatis egonya beraksi. Kiendy diam dan butuh waktu hingga akhirnya Kiendy mau untuk mengucap tolong.
Nah, saat mau buka bungkus sosinya Kiendy kesulitan. "Bu guru bukain". Kiendy menyodorkan sosisnya ke saya.
Saya ambil sosinya dan menanggapi dengan pertanyaan, "kalau minta bantuan kita ucap apa ya kak?"
Kiendy langsung terdiam. Namun tidak lama. "Bu guru tolong bukain". Saya tersenyum kemudian membantu membukakan kemasannya.
Hal ini sederhana, namun sangat mendasar dan kebiasaannya hanya bisa terbentuk setelah latihan berulang dan konsisten.
Sampai ketemu lagi di cerita selanjutnya.






Komentar
Posting Komentar