Bertemu, Mendengar, dan Belajar
Saya maju mundur selama sebulan ini. Antara ingin ikut dalam pertemuan bersama Shila atau tidak. Mengingat saya manusia yang jarang keluar dan berinteraksi dengan manusia lain. Baju yang dipilihkan oleh adik sejak sebulan lalu tidak jadi saya pakai. Alasannya karena tidak mau. Akhirnya seminggu sebelumnya ribet sendiri pilih baju untuk ketemu Shila dan Kak Bila di hari berikutnya. Kursus singkat cara memakai pashmina yang baik dan benar pun dibantu oleh Dinda via video call. Niat sekali ya bun~ Untung punya adik-adik yang baik. Setelah dapat approve dari dua manusia yang saya percaya kemampuannya dalam memilih outfit saya pun tidak bingung lagi.
29 Juli 2024 datang juga. Dengan perasaan deg-degan, tangan dan kaki yang dingin karena gugup saya berangkat menuju lokasi setelah selesai kelas TK A dan memastikan anak TK B aman. Motor saya titip di tempat parkiran biasanya, di samping halte Trans Jakarta (TJ) Pinang Ranti. Gawai saya memberi notifikasi. Baru saja duduk di kursi TJ, Nissa memberi saya kabar kalau tempat kumpulnya diubah. Saya langsung bergegas keluar dari TJ dan memastikan. Gemeshhh asli.~~~ Kudu sabaaar.
Perasaan gemes tertumpuk karena di hari sebelumnya info tempat dan waktu sudah simpang siur dan tidak jelas. Mengetahui sudah di jalan dan tiba-tiba lokasi diubah membuat saya ingin bernyanyi lagu dari BCL, "ku ingin marah melampiaskan~~~~" Nissa memberi tahu saya bahwa lokasinya kembali ke awal. Sate dan Seafood Senayan, Menteng. Pikiran ku langsung terbang ke salah satu kaidah ushul fiqh, "al-ashlu qowiyyun". Biasanya yang jadi ya...pilihan pertama karena "yang awal itu lebih kuat". Begitu kira-kira cocokologinya. Ahaha
Nissa menyarankan saya untuk bareng ke lokasi. Jadi, saya mampir dulu ke kantor Nissa. Pertama kalinya mampir ke kantor teman. Nissa sudah menunggu di depan loby. Melihat saya, Nissa langsung berlari kecil dan mau peluk. Saya gimana? Oh tentu kabur menghindar. ahahaha. Si makhluk kaku gitu emang. Maklum belum terbiasa sama peluk-peluk.
"Nis, aku mau ke toilet dulu." Nissa, langsung mengantar saya ke toilet. Nissa bercerita sambil melapisi seragam kantornya dengan baju bewarna merah muda- keunguan. Katanya, dulu karena masalah outfit dia sempat tidak dianggap saat ada pertemuan kerja. Jadilah dua manusia yang masih dalam proses belajar berpakaian rapih saling terkoneksi. Ya, itu juga terjadi pada saya.
Nissa mengajak saya ke loby. Katanya supaya adem. Kalau saya sendiri lebih memilih kena angin sepoi-sepoi, ditambah memang tidak mau lihat banyak orang berlalu lalang. Tapi, tamu kudu nurut sama yang shohibul bait kan ya. Nissa memesan Go-Car sementara mata saya melihat suasana yang terlihat di loby. "Nis, kalian tidak saling sapa?" tanya saya sambil mengarahkan mata memberi kode.
"Jarang Ri, soalnya beda divisi. Biasanya saling sapa sama yang saling deket aja kerjanya." Begitu jawab Nissa. Sementara saya masih mencoba untuk mencernanya. Dunia kerja di luar.
"Nis, kenapa kita nggak tunggu di sisi jalan?"
"Panas Ri, kalau ada yang mudah kenapa yang susah."
"Kalau kita bisa mempermudah orang lain kenapa kita buat susah?"
"Ri, biasanya juga drivernya akan ke loby. Udah disini aja. Di luar panas."
Sekali lagi, saya mencoba mencernanya. Sederhana, pikiran kami berbeda. Hmm...
Di perjalanan menuju lokasi tentu saja kami mengobrol. Nissa bertanya tentang mengajar saya hari ini dan beberapa terkait manajemen yayasan. Nissa memberi kesimpulan, "Ri, Lo tuh kayaknya udah di lingkungan yang bener. Kalau drama di perusahaan itu parah."
Saya mengamini, saya juga tidak mau ada di lingkungan dimana Nissa bekerja dulu maupun sekarang. "Dulu tuh ya Ri, pas psikotes aku bertanya sama diriku. Nis, beneran mau pakai waktu hidup di kerjaan ini?" kira-kira begitu pertanyaannya. Saya tidak ingat persis. Saya cuma ingat ini pertanyaan yang bisa bantu untuk lebih mengenal diri sendiri. Di perjalanan itu saya baru tahu tentang kerjaan Nissa di tempat sebelumnya.
Tiba di lokasi, ternyata sudah ada Tiwi dan Mentari. Saya merasa canggung di awal. Kami saling sapa, kemudian sibuk dengan teman ngobrol masing-masing. Mentari dan Tiwi, saya dan Nissa. Melihat daftar menu makanan membuat saya yang semula lapar menjadi kenyang. Sederhana karena bingung mau pilih apa. Buku menu saya bulak balik lebih dari 5 kali. Nissa membantu saya memilih, sampai akhirnya saya memilih cincau. Si kocak emang. Makan siang pakai cincau. Panda~ panda~
Kalau tidak salah ingat sepertinya Shila sampai di lokasi pukul 12.30. Semua saling sapa dengan Shila. Saya? masih loading. Pertama banyak yang bicara, kedua bingung, ketiga kedinginan. Suara Shila tidak terdengar jelas. Suasana di tempat makan terlalu berisik. Jadi ada banyak suara. Sulit untuk fokus pada satu suara. Ditambah volume suara saya dan Shila sama-sama minimalis. Ya sudahlah ketutupan. Ahaha.
Shila mengeluarkan beberapa pouch. Yeayy oleh-oleh. Sementara teman yang lain juga memberikan bingkisan kepada Shila. Kecuali saya. Sekali lagi masih loading. Mencoba mencerna apa yang terjadi siang itu. Kayaknya saya antara sadar dan tidak sadar. Sampai akhirnya Shila menyodorkan beberapa buku anak-anak yang memang sudah kami bicarakan sebelumnya. Barulah saya mengeluarkan notebook yang sudah saya siapkan untuknya. Buku yang biasanya saya gunakan untuk mengeluarkan isi kepala yang sering ramai ini.
Tidak banyak yang saya ingat dari pertemuan itu. Siang itu saya lebih banyak ngobrol dengan Mentari. Nissa sholat zhuhur dan Riri belum datang. Begini posisi duduknya. Mentari-Shila-Tiwi, di kursi seberang Nissa-Saya-Riri jadi peserta yang datang terakhir. Satu persatu saling bergantian mengobrol dengan Shila. Mentari menjelaskan tentang menu makanan yang ada. Tiwi dan Shila ngobrolin apa ya. Nggak kedengeran. Ahaha. Nissa sibuk nawarin Shila Nasi Bali. Saya sibuk makan cincau sambil mencerna apa yang sedang saya lakukan siang itu dengan banyak orang. Sesekali menjawab dan merespon kalau saya dengar. Semua sudah langsung switch ke bahasa Inggris sementara saya masih laoding dengan bahasas Indonesia. Bahkan saat menawarkan cincau ke Shila saya malah pakai bahasa Indonesia. Si Farihah emang danta. Saya cuma ingat Shila bertanya sambil menunjuk ke cincau, "Fari sudah makan siang? ini makan siang Fari?"
"Belum, sepertinya saya sedang tidak ada selera makan." jawab saya. Sudah itu saja yang saya ingat. Bagus banget dah ingatannya. Ahaha. Semakin ramai semakin sulit bagi saya untuk fokus. Oleh karena itu saya lebih nyaman dengan jumlah yang sedikit dan tempat yang sunyi. Nissa mengajak saya untuk makan Nasi Bali bersama. Saya menolak. Karena sedang tidak berselera untuk makan.
Bagaimana dengan Riri? Riri sibuk nawarin Shila rujak. Kata Riri dia ada pertemuan lagi sama temannya nanti jadi dia tidak mau terlalu kenyang. Awalnya saya kira Shila tidak akan memesan makanan karena mengingat dia sudah lama menjalani intermitten fasting. Ternyata benar, perutnya sakit karena makan siang dan mencoba banyak hal yang ditawarkan.
Disini saya belajar beberapa hal; rasa khawatir bertemu Riri dan Mentari karena takut tidak cocok ternyata cuma ilusi. Akhirnya saya malah banyak mengobrol dengan mereka dan saya nyaman. Hal lain yang juga penting adalah niat baik perlu dibarengi dengan pengertian. Belajar mengerti bahwa kita berniat baik untuk menawarkan sesuatu tetaplah baik, namun diatas aspek tersebut kita juga perlu untuk memahami bahwa mungkin bila orang lain menerima niat baik kita akan berdampak kurang baik baginya.
Nissa dan Tiwi pulang duluan. Karena jam istirahat makan siang mereka sudah habis. Sisa kami berempat. Mentari pulang ke arah yang lain. Sementara Shila, Riri, dan saya jalan menuju arah yang sama. Shila butuh waktu sebentar untuk menjawab pesan. Riri menanyakan gawai milik saya. Ayo kita foto bertiga. Kami pun berfoto. Pakai gawai saya dan Shila juga mengajak foto dengan gawai miliknya.
Shila dan Riri sempat hmmm apa ya dalam bahasa Indonesianya, berargumen sedikit. Apakah jalan kaki atau naik transportasi online menuju ke lokasi. Dua-duanya nggak enakan. Saya sebagai makhluk diantara mereka akhirnya memutuskan untuk mengatakan, "et dah kagak jalan-jalan nanti kita. Let's goooww jalan kaki." Akhirnya kami bertiga jalan kaki ke arah Grand Indonesia. Saya buta. Belum pernah ke daerah itu. Riri yang jadi guide kami. Di jalan kami ngobrol random. Sampai ngomongin karangan bunga dan bendera kuning. Itu Riri. Ah saya ingat sesuatu. Saya menyesal hari itu tidak jadi bawa payung. Ternyata Shila alergi di dahinya. Gatal karena sinar matahari. Ya sudahlah ya, sudah terjadi. Saya berpisah dengan mereka di halte TJ. Halte apa ya namanya. Lupa. Riri cuma bilang, yang sebelah kiri.
Di perjalanan pulang saya merasa seperti tidak nyata. Melihat saya pergi keluar, dan bertemu dengan beberapa teman. "Hmm...begini rasanya bertemu teman dari negara lain dan berbicara dengan bahasa Inggris secara langsung ya. Seperti mimpi." Begitu yang ada dipikiran saya selama perjalanan pulang. It was tiring but worth it. Senang bisa melihat diri sendiri mau membuka diri.
............ Keesokan harinya,
Karena jarak yang lebih jauh, saya perlu berangkat lebih awal. Di pikiran saya, saya ingin sampai sebelum waktu yang di tentukan. Kami janji bertemu pukul 1. Ternyata saya sampai di lokasi pukul 12. 20. Oh sungguh~~~~~ kecepetan gaes.
Saya turun di halte Blok M. Seram ternyata saudara-saudara. Kapoook. Di lorong itu bikin deg-degan. Malah sepi pula. Otak saya traveling kepikiran kemungkinan terburuk. Saya buta. Tidak kenal lokasi disana. Jadilah saya memutuskan untuk berjalan terus sampai melihat tempat yang ramai agar lebih aman. Berhasil keluar lorong, saya memutuskan berdiri di dekat pintu masuk Blok M square. Saat menunggu, ada bapak-bapak menawarkan e-money. Saya langsung menjawab singkat dan pergi. Saya merasa sangat tidak nyaman dan takut. Mental anak yang jarang keluar begini nih. Rasanya kayak di film Jakarta UNDERGROUND. Hmm... kapok serius.
Kak Bila masih di jalan. Kata Kak Bila kemungkinan baru sampai jam setengah 2. Disitu ku ingin menangis. Tapi, mengingat saya yang ajak. Saya mencoba kuat. Kak Bila awalnya menawarkan untuk ketemuan dengan anak Enjuku yang lain. Saya menolak tawaran tersebut. "Maaf kak, aku prefer sedikitan."
Akhirnya saya menunggu di Masjid yang diberi tahu kak Bila. Kak Bila sampai di lokasi pukul 13.15. Waktu masih di teater Enjuku kami tidak dekat. Tapi saya sering lihat Kak Bila. Sosok pemimpin yang saya kagumi. Kak Bila pernah bilang begini di sambutan pertama saat saya baru menjadi anggota, "aku percaya apapun yang kita lakukan, baik atau buruk, di niatkan atau tidak bisa mempengaruhi atau berdampak pada orang lain." Cara Kak Bila bertanggungjawab juga membuat saya kagum. Pokoknya panutan.
Karena dulu kami tidak dekat, jadi agak canggung di awal. Bukan agak malah. Emang canggung. Ahahaha. Saya beberapa kali mencoba untuk menghidupkan percakapan sambil berjalan mencari tempat maka mengikuti kak Bila. Akhirnya kami makan di food court lantai lima plaza blok M. Percakapan semakin cair. Kami akhirnya duduk berhadapan sambil makan dan mengobrol. Panjaaang sekali. Mungkin dua jam. Pertama kalinya ngobrol seperti ini bersama Kak Bila. Banyak hal baru yang saya tahu. Banyak hal baru yang saya coba untuk pahami. Kami larut dalam obrolan sampai makanan menjadi dingin.
Usai sholat ashar, saya memberanikan diri untuk mengajak kak Bila foto bersama. Mendadak saya jadi lupa caranya pegang kamera. Ahaha si kocak emang. Maklum gugup ketemu sama orang yang dikagumi. Kak Bila berinisiatif memilih tempat foto dan kasih banyak ide. Senang deh jadinya. Akhirnya bisa foto sama Kak Bila. ^ ^
Ini yang saya tulis di TJ selama perjalanan pulang setelah bertemu kak Bila,
Bertemu kak Bila, membuka pandanganku yang lain. Seseorang yang dulu ku lihat sangat passionate dengan kegiatan Enjuku, ternyata kesibukan dan segala pencapaian membuat kak Bila kehilangan banyak momen untuk mengenal dirinya sendiri dan orang-orang yang berharga untuk dirinya.
Ku rasa kini makin jelas adanya. Kita sering merasa semuanya baik-baik saja, meski ternyata yang sebenarnya terjadi tertutup oleh segala kegiatan yang kita pilih entah secara sadar atau tidak. Kesibukan yang entah apa ujung yang ingin dicapai. Kesibukan yang entah apakah kita mengerti atau tidak apa maknanya.
Memberi diri waktu sejenak untuk berbicara, bertanya, "Bagaimana kabarku?"
"Apakah sudah istirahat yang cukup hari ini?"
"Terimakasih sudah berjuang"
"Apa yang aku butuhkan?"
"Ketidaknyamanan apa yang ingin ku hadapi?"
Interaksi antar manusia memang tidak pernah sesederhana itu. Bukan hanya tentang dua sisi. Lebih dari itu. Apa yang melandasi kerjasama yang dilakukan bersama. Apakah karena ini adalah pekerjaan? Atau karena kita memang sadar perlu melakukannya bersama dan sadar untuk memberikan yang terbaik dengan posisi masing-masing.
Mendengar cerita kak Bila, rasanya seperti melihat diriku. Muncullah tanya dibenak ku, "apa aku juga begitu? Segala tanggungjawab yang ku buat sendiri membuat aku lupa untuk melihat ke dalam diriku sendiri. Tiba-tiba aku sudah jauh dari diriku sendiri sampai tidak tahu caranya melangkah"
Hingga akhirnya aku rasa salah satu kesimpulan pertemuan tadi adalah tentang menjadi lebih berani dan peka untuk melihat ke dalam diri. Tentang kenyataan bahwa sesuatu yang berlebihan tidaklah baik, meskipun kebaikan itu sendiri. Tentang sekali lagi, penting terus belajar mengenal diri sendiri.
Tentang menerima hal yang sudah berlalu tidak bisa terulang, kemudian hal tersebut membantu kita untuk kuat di masa depan walau dengan hati yang masih rapuh akan penyesalan.
Dunia ini tidaklah sempit hanya karena kita tenggelam dalam cerita kita sendiri. Karena mengarungi luasnya kisah seorang manusia membutuhkan waktu yang mungkin lebih lama dari masa hidup orang tersebut.
Pada akhirnya, hidup adalah tentang belajar. Belajar menerima bahwa hidup akan selalu dipenuhi tanda tanya. Rasa tidak nyaman. Masalah dan rasa lega. Untuk menghargai sesuatu maka perlu untuk memahami mengapa hal tersebut berharga. Pemahaman itu mungkin lahir setelah luka.
Menjadi dewasa dan terus bertumbuh mengajarkan tentang belajar untuk berani menerima kenyataan bahwa kesalahan-kesalahan bodoh itu adalah bagian dari proses bertumbuh. Aku yang dulu melakukan hal itu. Itu aku, bagian dari kisahku. Bagaimana keputusanku sekarang? Kemudian menjadi jembatan antara kesalahan dan perubahan yang ingin dicapai.
Bagiku, menunjukkan sisiku yang rapuh bukanlah hal yang memalukkan. Keberanian untuk memandang hal tersebut sama derajatnya dengan sisi diriku yang lain adalah pencapaian tersendiri, karena memang tidak mudah untuk bisa nyaman melakukannya. Aku sempat membenci diriku sendiri karena bercerita. Tentu tujuan bercerita kisah yang sulit bukan dengan harapan orang lain akan menangis dan bisa merasakan rasa sakit yang sama atau bahkan berharap solusi dan masalah selesai. Namun, ketika percakapan tersebut bisa menyentuh hati orang lain yang kemudian juga membantu mereka untuk juga memeluk hari-hari berat yang dialami, kemudian jadi saling bercerita dan terhubung adalah hal yang berharga. Rasanya seperti aku adalah manusia.
Akhirnya dalam setiap kenyamanan yang dinikmati dan hal berharga yang bisa dipelajari di dalamnya terdapat orang-orang yang mengorbankan dirinya. Di Enjuku salah satu tempat saya bertumbuh begitu juga di Episoden. Banyak kisah di balik sebuah cerita. Sehat terus orang-orang baik.
....
"Jadi Farihah kedepannya mau ganti pekerjaan atau gimana?" Tanya Kak Bila sambil berjalan menuju parkiran.
"Aku nggak masalah kak sama jenis pekerjaannya selama halal. Aku cuma tahu, aku mau kerja bersama orang yang aku bisa belajar darinya."
Dua hari yang panjang. Saya tidak menyangka bisa menikmatinya. Terimakasih.










Komentar
Posting Komentar