Maafin Bu guru (Day 10 & 11)
Hari jumat minggu lalu menjadi hari ke sepuluh kami. Cerita apa yang saya ingat? Ah, Attar dan Naya menjadi pemeran utama di hari itu.
Hmm….bagaimana menjelaskannya, hari ini Attar dan Naya berkolaborasi disemarakkan oleh Aby dan Santoso. Dua hari ini Attar dan Naya saya tidak tahu sedang kenapa. Mencoba untuk memahami tak kunjung terlihat hilalnya. Attar menangis ingin bersama mama di sekolah, begitu pula Naya. Jadilah mereka ingin membuka pintu utama. Meskipun orang tua mereka tidak ada disana. Intinya ingin pulang. Kalau Aby….hmmm… Kenapa ya? Usai sholat Dhuha Aby langsung memakai tasnya dan meminta pulang. Santoso bestie Aby. Melihat Aby turun ke lantai 1, Santoso pun ikut. Bukan karena ingin pulang tapi karena ingin dekat dengan Aby. Akhirnya begini kisah kami.
Naya dan Attar berdiri di depan pintu. Sementara pintu di kunci ganda. Karena akan sulit bila kami membiarkan pintu terbuka. Kalau anak-anak membuka pintu gerbang dan ke jalan akan bahaya.
Hmm….bagaimana menjelaskannya, hari ini Attar dan Naya berkolaborasi disemarakkan oleh Aby dan Santoso. Dua hari ini Attar dan Naya saya tidak tahu sedang kenapa. Mencoba untuk memahami tak kunjung terlihat hilalnya. Attar menangis ingin bersama mama di sekolah, begitu pula Naya. Jadilah mereka ingin membuka pintu utama. Meskipun orang tua mereka tidak ada disana. Intinya ingin pulang. Kalau Aby….hmmm… Kenapa ya? Usai sholat Dhuha Aby langsung memakai tasnya dan meminta pulang. Santoso bestie Aby. Melihat Aby turun ke lantai 1, Santoso pun ikut. Bukan karena ingin pulang tapi karena ingin dekat dengan Aby. Akhirnya begini kisah kami.
Naya dan Attar berdiri di depan pintu. Sementara pintu di kunci ganda. Karena akan sulit bila kami membiarkan pintu terbuka. Kalau anak-anak membuka pintu gerbang dan ke jalan akan bahaya.
Sebagaimana ketika anak-anak bahagia di sekolah rasanya senang sekali, maka ketika anak-anak mengatakan ingin pulang bahkan sampai menangis rasanya jadi mempertanyakan diri, kenapa ya? apa yang harus dibenahi?
....
Hari ke sebelas jatuh di hari Senin, 29 Juli 2024. Hari dimana saya bertemu dengan teman Korea pertama kali secara langsung. Sejak malam sudah gugup. Di pagi hari tangan dan kaki sudah dingin. Melihat Fathan yang gelendotan dengan ayahnya, membuat saya jadi terkoneksi. Fathan gugup takut ditinggal ayah di sekolah, saya pun gugup akan berbaur dengan manusia lain di tempat yang baru. "Athan....bu guru sekarang makin paham perasaan Athan. Bu guru juga sekarang sedang gugup dan merasa tidak enak di hati. Hari ini bu guru akan bertemu dengan teman-teman baru dan tempat baru. Coba Athan pegang tangan bu guru. Dingin." Athan memegang tangan saya sambil memeluk ayahnya dan mengangguk setuju tangan saya dingin.
Karena sudha memahami pola Athan, saya pun meminta ayah Athan untuk pergi berpamitan dengan Athan meskipun Athan tidak mau dan menangis. Saya memeluk Athan dan meminta maaf. "Athan, maafin bu guru ya. Maafin bu guru ya. Ayah perlu berangkat kerja, nanti kalau terlalu lama ayah kasihan bisa terlambat. Maafin bu guru ya." Athan pun menangis di pelukan saya tapi tidak melawan. Dia menangis untuk mengeluarkan rasa sedihnya ditinggal di sekolah.
Tak butuh waktu lama Athan sudah tenang. Saya pun mengajak Athan ngobrol santai dan mengajak baca. "Athan, bulu mata Athan bagus sekali. Boleh nggak tukeran sama bulu mata bu guru?" begitu tanya saya sambil mengeluarkan buku baca Athan.
"nggak bisa lah, kan di lem." begitu jawab Athan dengan wajah imutnya.
"Di lem? di lem sama siapa?"
"Robot", senyum Athan yang manis membuat percakapan sederhana iatu menjadi menyenangkan, saya bisa ingat jelas senyumnya.
Athan sudah menjadi tenang dan bermain dengan Umar. Saya mencari anak TK A yang belum membaca. Aby seperti biasa. Datang ke sekolah langsung mencari boneka hewan dan memeluk semuanya kemanapun di apergi. Boneka gajah, bebek, monyet, ayam. Saya mengajak Aby membaca dan berjanji membantunya mencari boneka yang lain usai membaca.
Saat membaca, dengan boneka sapi di jarinya Abi menunjuk kartu bergambar hewan yang ada di meja. "Bu guru ini bukan sapi, ini zebra." Begitu kata Aby sambil mendekatkan boneka sapi ke gambar.
"Hmmm..oh ya? tapi Sapi punya totol bulat dan Zebra bergaris."
"Bu guru itu ada NGOOK" Aby menunjuk gambar hewan babi.
Saya tertawa mendengar Aby sebut babi dengan 'ngook'. Gemes lihatnya. Usai membaca sesuai janji saya membantu Aby mencari boneka yang dia inginkan. Mulai dari lantai dua, ke lantai satu. Kembali ke lantai dua, tetap tidak ketemu. Akhirnya Aby menunjuk ke lantai 3. Saya pun setuju untuk mencarinya di lantai 3. Tentu saja tidak ada disana. Namun kami berdua menemukan hal yang mengagetkan. Kami melihat ada dua ekor ulat keket besar yang kenyang makan daun pohon Anggur Ibu. Saya yang takut dengan ulat gemetar dan merinding. Namun, saya tetap mengambil tongkat untuk membuang ulatnya. Saya manfaatkan momen tersebut untuk mengajarkan kepada Aby bagaimana menghadapi rasa takut dan mengambil langkah. Serta menjelaskan kenapa ulatnya perlu di buang. Karena si pohon Anggur bisa botak tanpa daun kalau dibiarkan. Aby membuat pengumuman "teman-teman toloooong ada ulat bulu besaaar"
"Ulat keket bi, dia kaga punya bulu."
Anak-anak TK pun masuk ke kelas masing-masing dan saya turun ke bawah menunggu anak-anak TK B dan mengajarkan membaca satu persatu. Waktu sholat dhuha pun tiba, anak-anak naik ke lantai dua untuk sholat bersama. Saya mendengar ada suara tangisan. Saya kenal suaranya. Itu suara Aby. Saya langsung naik ke atas, di tangga saya bangga dengan diri saya di dalam hati. "Uh, aku sudah hafal beberapa suara anak-anak".
Melihat Aby menangis di depan pintu yang di jaga oleh kak Zahra, saya menghulurkan tangan dan mengajak Aby ke lantai 1. Untungnya anak yang lain tidak ikutan. Di bawah ada Aby, Naya, kak Ais, dan saya. Mengingat sebelumnya Aby sempat mengajak membaca buku bersama, akhirnya saya mengajak Aby ke lemari perpusatakaan lantai 1 dan memilih buku. Saya pun membacakan cerita tersebut dan Aby sangat senang. Begitu juga dengan Naya yang anteng membca buku cerita yang lain. Aby meminta saya membacakan 3 buku cerita sampai akhirnya tiba waktu pulang sekolah. Senang sekali rasanya. Alhamdulillah.





Komentar
Posting Komentar