Malam hari jantung tiba-tiba berdegup lebih kencang dari biasanya. Saya kesulitan tidur. Bukan karena hal yang romantis namun karena gugup. Senin, 15 Juli 2024 menjadi awal tahun ajaran baru. Di TK saya dan tim akan berkenalan dengan beberapa anak TK baru. Masih saja gugup meskipun ini adalah tahun ke 7 saya berproses di TK. Salah satu yang menjadi kekhawatiran adalah jikalau ada anak baru yang menangis tidak mau ditinggal.
Pagi-pagi sudah sangat sibuk. Usai mengaji shubuh anak-anak DTA, saya harus siga, siap-siap memimpin guru-guru. Sulit untuk sarapan pagi karena waktu yang mepet. Sehingga kalau tidak memperhitungkan dan memanfaatkan waktu dengan baik akan sulit untuk sarapan. Sedikit konflik terkait waktu datang guru di pagi hari tidak terhindarkan. Alhamdulillah konfliknya sehat. Fokus pada masalah dan solusi.
Alhamdulillah, hari pertama anak-anak bisa langsung ditinggal oleh orang tua. Yeayyy. Senangnya. Saya perkenalkan anak-anak di tahun ini. Anak-anak kami berusia 4,5 tahun sampai 7 tahun.
Perempuan: Kiendy, Afifah, Nada, Haura, Nadhira, Aishwa, Shareen, Aghniya, Alya, Aqila dan Naya.
Laki-laki : Aby, Zaky, Umar, Muhammad, Attar, Zaki, Kiki, Irsyad, Aril, Fatih, Farel, Santoso, Ammar, Bahran, dan Alvarendra.
Yup, untuk tahun ini lebih banyak anak laki-laki daripada perempuan. Tahun lalu jumlahnya hampir sama. Namun kali ini laki-laki hampir dua kali lipat banyaknya. Anak-anak dengan speech delay ada 4 orang, dua diantaranya disertai autisme. Tentu bukan hal yang mudah untuk saling bekerjasama diawal. Namun saya bersyukur, dengan berbekal pengalaman selama 3 tahun dealing dengan anak autis membuka hati dan pikiran saya. Untuk menerima anak-anak dengan kondisi yang berbeda dan tentunya dengan terus bekerjasama dengan guru yang lain untuk terus mencoba memahami mereka. Begitu pula anak-anak TK lainnya.

Dalam istilah dunia pendidikan sekolah kami disebut sebagai sekolah inklusi. Dimana anak-anak berkebutuhan khusus bisa belajar bersama dengan anak-anak yang tidak berkebutuhan khusus. Dengan kesadaran bahwa setiap anak berhak untuk belajar tanpa dinding pemisah. Belajar dengan aman dan bahagia. Hari ini Attar dan Naya menjadi menonjol diantara teman-temannya. Attar dan Naya masih belum lancar bicaranya. Keduanya juga belum bisa memahami arti bermain bersama. Sehingga saat bermain bersama teman-teman mereka banyak merengek dan sedikit marah. Satu kali saya kena pukul Naya di pipi, karena Naya tidak ingin bergantian main jungkat - jungkit dengan temannya. Anak-anak lain yang melihat hal tersebut mencoba mencerna dan memahami apa yang terjadi. Jujur itu agakk sakit. Karena pipi saya terkena kuku Naya. Namun, saya baik-baik saja. Perasaan saya tetap tenang. Sambil mencoba menjelaskan kepada Naya bahwa teman yang lain juga ingin ikut bermain. "Naya, tidak apa-apa. Teman yang lain hanya ingin ikut bermain." Saya ulangi kalimat saya pelan-pelan dengan bahasa yang jelas dan gerakkan. Beberapa anak saya perhatikan berinisiatif untuk mengalah dan memberikan Naya duduk. Saya melihat ekspresi wajah mereka yang bingung namun mencoba untuk memahami temannya. uwwhhh gemess. ( > < )/

Aril dan Shareen yang kini sudah kelas B, sudah terlihat lebih dewasa dan mandiri. Berbicaranya juga sudah semakin jelas. Hari ini Aril kaget karena Attar yang tiba-tiba marah karena mainan yang Aril sedang pegang. Ia termenung, kaget dan bingung bercampur aduk. Kami tersenyum. "Attar, tidak apa-apa, Aril hanya ingin main bersama" saya mencoba menjelaskan dengan tenang, perlahan, bahasa yang jelas, dan juga bahasa tubuh. Bila di jumlahkan, mungkin saya mencoba menjelaskan kepada Attar dan Naya lebih dari 10x hari ini. Melihat guru-guru yang lain yang juga sabar menghadapi anak-anak membuat saya menjadi hangat dan bangga. Kami memang masih muda dan belum punya anak. Namun, kami tahu kalau kami mau belajar menjadi orang dewasa yang baik untuk anak-anak.
Mendengar anak-anak mengatakan "Sekolahnya seru ya" jadi hadiah tersendiri di hati. Ada yang langsung bercerita ke orang tua ketika di jemput, "Mama, tadi di sekolah seru banget".
Anak-anak TK A yang kini sudah TK B terlihat semakin dewasa dan bertanggung jawab. Aishwa dan Aqila membantu saya merapihkan mainan sebelum pulang sekolah sampai akhir, disaat teman-temannya sudah masuk ke kalas untuk membaca do'a pulang sekolah. Sedangkan Anak TK B yang lain sangat senang bisa memiliki teman baru pun juga ada yang bingung dan penasaran melihat tingkah teman baru mereka. Lucu deh ekspresi mereka.

Mengobrol dengan anak-anak yang masih menunggu jemputan pun menjadi hal yang menyenangkan. Kiendy bercerita banyak hal sambil menuggu jemputan. Gemes. Pelukan anak-anak juga hangat. Tidak bisa dinilai dengan uang. Hal sederhana yang membuat hati bahagia. Ketika mereka sekolah dengan bahagia. Adalah pencapaian yang sangat berharga bagi saya. Begitu pula yang dirasakan oleh tim guru. Usai anak-anak pulang, kami baru sempat untuk sarapan dengan baik. Ahaha. Makan siang itu mah ya. Lanjut mempersiapkan untuk kegiatan di hari selasa. Sambil ngobrolin tentang anak-anak di hari ini. Begitulah kami. Saya bangga dan bersyukur bisa ada di titik ini. Bersyukur dengan tim guru dan anak-anak juga. ^ ^
Gimana yang kisah hari ke dua? tidak mau berekspetasi. Hanya berharap semua bisa dihadapi dengan baik. Aamiin.
Komentar
Posting Komentar