Sabar dan Pandai (Day-9)

 Bagaimana kabar hari ini? Alhamdulillah masih bisa menikmati, tertawa, dan bersyukur.

Ada dua sesi temani pahami emosi hari ini. Pertama sesi bersama Fathan, berlangsung hampir satu jam. Kedua bersama Naya, berlangsung 1 jam 30 menit. Ketika tidak tahu apa yang harus dilakukan, maka saya memutuskan untuk membiarkan semua terjadi apa adanya tanpa banyak mencoba untuk melakukan sesuatu. Anak-anak masih bingung dengan perasaan mereka. Saya pun bingung apa yang perlu saya lakukan untuk memahaminya. Akhirnya saya putuskan duduk di samping Athan sambil mengajarkan anak yang lain membaca satu persatu. Athan menangis cukup lama. Ternyata Athan lebih nyaman bila di temani secara fokus. Karena biasanya tidak selama itu. Namun saya juga ingin memberi Athan tahu situasi saya. Sehingga Athan bisa memahami kondisi saya dan teman-teman lain yang butuh saya bantu. Sambil mengajarkan membaca tangan saya puk-puk punggung Athan. Tangisannya perlahan mereda. Saya segera sadar bahwa Athan butuh untuk diajak berinteraksi sekedar puk-puk lembut meski tanpa bicara. Beberapa anak mencoba mengajar Athan bicara dan bertanya pada Athan. "Bu guru kalau sudah di kelas Athan pintar, tapi kenapa kalau di lantai 1 Athan menangis?" Saya tersenyum mendengarkan hal tersebut dan menjawab, "hmmm...iya ya, kenapa ya? coba kakak tanya ke Athan."

Usai mengajar beberapa anak membaca, saya langsung mengajar Athan ngobrol. Saya menceritakan kepada Athan bahwa dulu saya juga pernah menangis karena saat pulang sekolah, di rumah saat itu tidak ada orang. Hari itu adalah hari Jum'at, Ayah dan saudara laki-laki saya sholat dan Ibu sedang mengajar. Saya ceritakan kepadanya, saya menangis di depan jalan rumah. Lalu ditemani oleh nenek-nenek dari rumah sebelah. "Dulu, bu guru  juga sama seperti Athan. Menangis karena kesepian. Akhirnya bu guru putuskan untuk tinggal lebih lama di sekolah menunggu bersama teman-teman." Saat melihat Fathan sudah semakin tenang, kami juga ngobrol tentang bulu tangkis, tentang bulu kok dan cara pembuatannya. Diselingi obrolan tentang di kejar Soang. Waktu sholat Dhuha tiba, Athan langsung naik ke atas dan gabung bersama teman-teman yang lain.

Kini waktunya kisah Naya dan Zaki. Sepertinya ada yang sedang Naya rasakan. Entah mengantuk atau sedang merasa tidak enak badan, atau mungkin lainnya. Naya masih belajar untuk mengerti kalimat-kalimat dasar. Sehingga butuh waktu bagi kami untuk saling memahami. Awalnya Naya mau langsung ikut dengan teman-teman. Saat waktu sholat Dhuha tiba, jeng-jeng-jeng. Naya menangis dan sudah membawa tas di punggungnya. Akhirnya bersama Zaky disampingnya Naya turun ke lantai satu sambil menangis-berhenti-menangis lagi-berhenti lagi, begitu seterusnya sampai waktu pulang sekolah. Tenang adalah kunci untuk situasi seperti ini. 

Naya dan Zaky mencoba untuk membuka pintu utama. Namun pintunya terkunci. Naya bicara sesuatu ke saya. Namun saya kesulitan untuk memahami. "Zaky ngerti maksud Naya apa?"

Dengan wajah polos Zaky mencoba untuk menerjemahkannya, "maksudnya tiduran bu guru".

Akhirnya kami tiduran. 10 detik. Naya bangun dan menangis lagi.

Haura yang hari ini datang terlambat sudah berdiri di depan pintu. Saya bingung. Tapi akhirnya harus membuka kuci pintunya. Haura langsung naik ke lantai atas bergabung bersama teman yang lain. Naya dan Zaky? Langsung menyelundup ke teras sekolah dan mau membuka gerbang. Namun akhirnya kami main di ayunan teras. Kami bermain drama transportasi bersama. "Oke bapak dan ibu, kita mau berangkat kemana? " Tanya saya sambil mendorong ayunan perlahan.

"Palestina" begitu jawab Zaky spontan.

"Oke kita berangkaaaatttt."

Naya menyuruh Zaky pindah tempat duduk. Zaky pun pindah ke tempat duduk satu lagi. "Tuh kan bu guru, aku pindah dia ikut pindah" kata Zaky dengan wajah bingung. Saya tersenyum melihat hal tersebut.

Ronde ke dua Zaky naik ke bagian atas ayunan. Naya mau ikutan tapi belum bisa. Saya sampaikan ke Zaky, "Oke pak guru Zaky, Naya juga mau ikut naik. Coba Zaky ajarkan pelan-pelan." Zaky pun turun dan memberi tutorial. Naya mencoba meniru namun belum bisa. 

Saya sampaikan ke Zaky, "coba satu-satu pak guru, pelan-pelan." Setelah 3x mencoba Zaky pun menyerah memberi tutorial. Usai dari ayunan kami kembali masuk. Naya awalnya menolak. Naya maunya di teras. Akhirnya Naya mau masuk dan kami sekali lagi nogkrong bersama di depan pintu utama. Saya tanya Zaky tentang gambar love di pipinya. Dia bilang itu digambar bu guru di atas. Saya pun mengajak Zaky untuk menggambar love yang lain.  Saya mencoba mengecek kantong rok saya. Tidak saya temukan pulpen merah yang saya bawa. Ternyata pulpennya ada di dekat roda sepeda saya yang terparkir di depan lemari buku. "Zaky, tolong ambilkan pulpen bu guru ya, itu di depan roda sepeda". Saat Zaky mengambil pulpennya, Naya ikut ambil lalu nangis lagi. Marah sama Zaky. Saat diberi puplennya, Naya lempar pulpennya. Wajah Zaky mengingatkan saya pada tipikal wajh cowok-cowok yang bingung kalau sedang berhadapan sama pacar yang lagi uring-uringan. Tertulis, 'BINGUNG'. Ahhaha. Saya tertawa melihat tingkat mereka. 

Zaky mengambil pulpennya dan menyerahkan kepada saya. Naya langsung ikut dan merebut pulpennya. "Naya, pulpen ini milik bu guru. Bu guru mau pakai dulu ya." Naya menolak memberikan pulpennya. Ternyata Naya juga ingin di gambar love ditangannya. 

Zaky yang  sudah tidak sabar merebut pulpennya dari Naya. "Pak guru Zaky, kalau jadi guru kita perlu sabar dan pandai. Sabaaar....dan pakai strategi." Saya ulang-ulang kalimat tersebut pada Zaky sambil mencoba mengajak Naya bicara agar bisa pakai pulpennya bersama-sama. Setiap kali Naya menolak, Zaky memandang saya. Saya ulangi kalimat tersebut. "Inget pak guru Zaky, kuncinya sabar dan pandai."

Akhirnya setelah berkali-kali mencoba Naya mau memberikan pulpennya. Kami pun menggambar love ditangan. Awalnya Naya melarang saya menggambar love ditangan Zaky. Akhirnya tiba-tiba datang ide, saya membuat lagu sederhana, "Naya, sekarang Zaky" sambil menggambar secara bergantian di tangan mereka. Saya ulangi lagu tersebut sampai ke duanya punya banyak gambar love di telapak tangan mereka.



Waktu pulang sekolah sudah hampir tiba, Zaky dan Naya akhirnya mau naik ke lantai 2 bergabung dengan teman laiinya. Lebih tepatnya Zaky. Naya tetap inginnya di bawah. Zaky pun masuk ke kelas dan membuat kolase. Ternyata saat membuat kolase Zaky bilang begini ke Kak Tika, "Bu guru aku capek tadi di bawah", saya tertawa mendengar hal tersebut. Saya tidak inget berapa kali Naya marah-marah ke Zaky, dan Zaky bisa sabar dengan hal tersebut. Bekerjasama dengan baik. YOOOOSHHH! Alhamdulillah.

Komentar

Postingan Populer