Tanpa Alas Kaki (Day-12)

Saya baru sadar kalau banyak anak-anak yang luput dari pandangan saya. Karena fokus saya terpusat pada anak-anak tertentu. Entah yang menangis, keluar gerbang, atau yang ngareog. Sehingga saya jadi jarang berinteraksi dengan anak-anak yang lain. Hampir setiap hari bertemu namun rasanya seperti jarang.

Nama- nama yang saya sebutkan pun cenderung sama. Masih banyak yang belum pernah saya tulis kisahnya disini.

Usai kemarin ke daerah yang saya tidak tahu. Hari ini saya ke blok M untuk bertemu senior di Enjuku. Kak Bila. Kakak senior yang juga sekaligus orang yang saya kagumi. Perasaan saya tidak deg-degan seperti kemarin. Pagi-pagi saya sudah memeluk Athan karena bundanya sudah telat berangkat kerja. Sekali lagi saya memeluknya sambil berbisik, "Maafin bu guru ya Athan". Tidak lama Athan menangis hari ini. Kurang dari 3 menit sepertinya, Athan sudah bisa diajak ngobrol seperti biasa kemudian main bersama teman-teman.



Satu persatu anak-anak belajar membaca sambil yang lain bermain.


Setelah lebih dari 30 menit bermain bersama yang lain, tiba-tiba Athan menghampiri saya. "Bu guru badan aku anget."

Saya menempelkan tangan saya ke dahi Athan, "Wah iya, sebentar ya Athan bu guru ambil thermometer." Saya teringat kata dokter Indah saat saya di periksa di rumah sakit. Kata dokter Indah jangan cuma di cek pakai tangan kalau demam. Cek secara objektif pakai alatnya.

Hasilnya suhu tubuh Athan 37,4°C. Saya cek di internet, website Alodoc suhu demam anak adalah lebih dari 37,2°C. Saya pun mengambilkan Athan bantal dan alas untuk tidur sambil menunggu yang menjemput.



Saya turun ke lantai satu mengecek anak-anak TK B. Ternyata lagi-lagi Aqila sudah menunggu sambil duduk di luar. Pintu utama saya kunci dari luar, antisipasi anak TK A ada yang mau mencoba keluar. Seperti biasa saya di teras sambil mengajar anak TK B membaca satu persatu.

"Bu guru, kenapa pintunya dikunci?"

Begitu kata mereka.

"Karena Zaky TK A suka tiba-tiba keluar gerbang" begitu jawab saya.

Anak-anak TK B yang sudah membaca bermain ayunan bersama sambil bercerita. " Kata bu guru pintunya di tutup soalnya Zaky TK A nanti keluar."

"Bukan Zaki TK B?"

"Bukan, Zaki TK B sekarang udah gak gitu lagi"

Ahahhahahahaha. Dulu Zaki TK B juga begitu bareng Farel. Ngiterin RT malah. Mantaappp.

Saat waktu sholat dhuha Zaky turun ke bawah. Gak mau ikut sholat. Saya mengajak Zaky melakukan hal yang sama seperti Aby kemarin. Membaca buku cerita bersama. Zaky memilih buku tentang lalat. Bukan saya yang bercerita. Zaky membuat ceritanya sendiri dengan imajinasinya sambil menunjuk gambar. Lucuu dah pokonya. Di halaman terakhir, ada gambar lalat yang belum selesai di warnai. Zaky langsung ke lantai 2 untuk mengambil alat mewarnai di tasnya. Turun dari lantai 2, Zaky tiba-tiba langsung menerobos keluar pintu gerbang. Lariiiiii sampai pasar. Tanpa alas kaki dan tas. Kalau dikejar begitu dah. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke sekolah. Berharap Zaky kembali sendiri ke sekolah. Ternyata benar. Perlahan Zaky berjalan kembali ke sekolah. Saat ditanya kenapa tiba-tiba kabur, Zaky tiba-tiba menangis. Patah hati dia. Katanya "Bu guru gak mau sama Zaky"

"Bu guru yang mana?"

"Bu guru yang satu lagi."

"Iya namanya siapa?"

"Bu guru kaka Tika."

"Hmmm gitu, maafin kakak Tika ya, nanti bu guru coba tanyain. Kenapa begitu. Tapi Zaky gak boleh kabur lari lagi kayak gini. Kan bahaya. Kaki Zaky  juga lihat tuh jadi hitam kena aspal"

Usai melihat Zaky pulang dengan alas kaki dan tas. Saya langsung naik ke atas klarifikasi cerita Zaky dengan guru-guru. Ternyata Zaky gelendotan pas teman-temannya lagi baca do'a.  Walhasil Kaka Tika tidak nyaman dan mencoba mengajarkan kepada Zaky sudah tidak boleh lendotan. Biasanya saya juga begitu. Kalau anak-anak sakareup sendiri biasanya kami coba ajak paham agar tidak sakareupnya dewek. Mendengar cerita saya kak Tika langsung bilang, "Ya Allah Zaky, nanti pas ngaji saya minta maaf deh teh."

Komentar

Postingan Populer