Tidak apa-apa menangis (DAY- 6 to 8)
Hari ini ayah Naya mengantar Naya sampai ke lantai 2. Sebelumnya ayah Naya sempat menyampaikan "Naya di kelas, ayah tunggu di luar ya". Namun akhirnya meralat menjadi, "ayah pulang dulu ya. Dadah". Kejujuran adalah hal yang perlu kita ambil sebagai orang dewasa. Anak-anak akan belajar lebih mudah dari hal tersebut. Guru pun akan lebih mudah untuk bekerjasama. Sebagai gambaran, saya mencoba menenangkan Naya, "Naya sedih ya papah pulang? tidak apa-apa kalau Naya bersedih dan mau menangis. Nanti saat pulang sekolah Papa akan jemput Naya lagi." Begitu pula pada Fathan, "Athan kalau masih mau menangis tidak apa-apa. Bu guru temani Athan." Saya lebih memeilih untuk membantu dan memberi anak-anak kesempatan untuk memahami emosi mereka dibandingkan dengan menjanjikan sesuatu. Dengan tujuan bisa membantu anak-anak belajar mengerti sedikit demi sedikit. Saya sangat menolak untuk bekerjasama berbohong pada anak-anak meskipun hal terkecil.
Saya tidak ingat persis apa yang terjadi di hari Senin. Yang saya ingat hanya tentang bernegosiasi dengan Fathan yang agak butuh waktu untuk akhirnya bisa belajar di sekolah tanpa ditunggu. Fathan menangis ditemani saya dan Umar. Akhirnya kami bermain sepeda bersama dan main balap panjat hingga akhirnya Fathan mau naik ke atas dan bergabung dengan teman-teman lainnya.
Hari Selasa pagi, situasi sangat buyarrrrrr. Santoso menangis dan tidak mau sekolah hari itu karena tidak ditunggu oleh Nada. Naya menangis, Attar ngareog, Aby mau diajak main, dan Fathan juga menangis lebih lama dari hari Senin. Saya gimana? Oh......saya nikmati saja. Saya bersidekap dikelilingi anak-anak, sesekali menguap, sambil merespon apa yang mereka inginkan. Santuy aja. Begitu cara saya untuk bisa tenang. Apakah di dalam pikiran saya baik-baik saja? oh....tentu tidak. Ahaha. Sudah lebih dari satu jam saya mencoba untuk menghadapi situasi tersebut. Bagaimanapun begitulah berinteraksi dengan anak-anak. Guru dilatih untuk setenang mungkin agar tindakan yang diambil bisa menjadi efektif. Kalau guru mudah panik dan marah. Pembelajaran tidak akan berjalan dengan baik.
Ada kejadian, Naya main sepedah dengan Salwa. Kakinya tidak sengaja masuk ke jari roda. Naya menangis mencari mamahnya. Ingin pulang. Attar memberi tisu ke Naya namun ditolah. Naya tidak mau didekati. Maka di situasi tersebut saya perlu mengerti. Saya menjaga jarak sambi ajak Naya ngobrol, " Pasti sakit ya Naya. Bu guru boleh lihat kakinya?" "Tidak apa-apa Naya menangis dulu."
Hari itu saya langsung bekerjasama dengan guru yang lain untuk membuat mini Drama dadakan. Tentang anak yang orang tuanya terlambat berangkat kerja, kemudian ditegur oleh bosnya. Kami menggunakan drama sebagai jembatan agar anak-anak bisa melihat apa yang kami lihat. Karena biasanya masalah sulit dipahami karena kita tidak punya gambaran tentang masalah tersebut.
Hari ini, Fathan no drama. Fathan senang mendapat hadiah. Ibu meminta saya untuk bilang ke Fathan kalau itu adalah hadiah dari bu guru. Saya menolak. Itu bukan hadiah dari bu guru. Saya tidak mau bohong. Isi hadiahnya adalah mainan. Pagi ini tidak seperti kemarin. Anak-anak lebih kondusif. Naya menangis sebentar. Akhirnya Fathan, Umar, dan Naya naik ke lantai 3 bersama saya untuk menyiram tanaman. Anak-anak yang lain ikut naik ke atas. Mereka saling mengobrol dan saya ikut dalam obrolan mereka sambil belajar. Hal yang sederhana namun tergantung dengan pendamping. Guru perlu memiliki kemampuan untuk melihat potensi kegiatan sederhana menjadi kegiatan yang menghasilkan hal yang besar dan bermanfaat.
Saat melihat Naya langkah demi langkah naik dan turun tangga, Naya masih takut namun tangguh. Melihat Naya yang berjuang belajar naik dan turun tangga saya jadi terharu. Anak-anak berproses. Mereka mencoba yang terbaik yang mereka bisa. Hal tersebut sangat layak untuk diapresiasi. Karena saat saya melihat diri sendiri di usia saya yang saat ini, belum tentu saya punya keberanian seperti mereka. Berani untuk berdamai dengan tantangan yang ada di hadapan, rasa takut, dan mungkin kemungkinan terjatuh. Anak-anak bu guruuuuu. Kalian kerreeen.








Komentar
Posting Komentar