Hal Baru (DAY-30)
"When it comes to new things in life usually we need time to adapt"
Hari Jum'at kami memutuskan untuk ziarah kubur. Tidak ada bayangan bahwa akan seriweuh itu. Ahaha. Tapi kami menghadapinya dengan rasa bahagia. Guru-guru berkumpul dan mengobrol tentang hari itu. Hal yang saya syukuri, ketika kami berkumpul kami senang sekali membicarakan tentang anak-anak mulai dari masalah hingga tingakh lucu mereka. Rasanya bersyukur. Karena kalau mendengar cerita kawan yang lain mereka sering cerita betapa seramnya drama di perusahaan dengan rekan kerja. Entah mungkin karena tim kami adalah tim yang kecil sehingga kemungkinan julid satu sama lain juga kecil. Yang ada kami stress bareng dan tertawa bareng karena anak-anak.
Mencoba hal baru membutuhkan waktu untuk akhirnya bisa beradaptasi. Saya yang kurang suka untuk keluar tiba-tiba ngide, anak-anak hari jumat jalan bareng keluar untuk ziarah. Awalnya akan ziarah sampai ke kuburan ayah. Namun karena khawatir anak-anak menginjak kuburan akhirnya hanya sampai depan pintu masuk kuburannya.
Ini kali pertama Naya ikut jalan bersama teman-teman di luar. Saat karnaval Agustus kemarin Naya tidak hadir. Ternyata Naya sangat antusias. Karena terlalu antusias Naya lari kesana kemari di jalan, walhasil kami perlu untuk lebih fokus. Anak-anak yang lain jadi ada yang ikut berlari. Wooaaaah riweuh. Ahaha. Saya memutuskan kak Ais untuk secara khusus menemani Naya. Memperhatikan Naya dari jauh saya kemudian berpikir, "Naya senang ya. Bisa keluar melihat hal baru bersama teman-teman" begitu hati saya sambil tersenyum ke arah Naya. Ketika anak-anak terbiasa di dalam rumah dan dibatasi geraknya akan sulit bagi mereka untuk belajar hal baru. Saat itu saya berpikir mungkin Naya merasa sangat senang karena akhirnya bisa berinteraksi dengan orang lain selain keluarganya. Karena awalnya sebelum sekolah Naya banyak dilarang. Sementara di sekolah kami banyak memberi kesempatan untuk Naya menyalurkan rasa penasarannya dan mencoba. Tentu sambil didampingi.
Di jalan menuju TPU melewati gang-gang kecil kami melihat beberapa warga terutama nenek-nenek dan ibu-ibu yang tersenyum melihat barisan anak-anak. Mereka tersenyum bahagia. Saya ikut bahagia melihatnya. Saya, kak Tika, dan Kak Zahra fokus dengan anak-anak yang lain sementara Kak Ais terus berlari mengejar Naya. Ahahaha. Naya capek begitupun kak Ais. Namun hal terbaik adalah kami semua bahagia. Anak-anak bahagia bisa belajar di luar dan bergandengan tangan dengan teman-teman. Kami guru-guru tentu capek tapi juga senang melihat anak-anak senang.
Sesampainya di sekolah anak-anak langsung mengambil bekal makan mereka. Terlihat banyak anak yang membawa bekal buah-buahan. Mereka semua lapar usai jalan sejauh kurang lebih 2 km (pergi dan pulang). Semua anak makan dengan lahap. Ada beberapa anak yang tidak membawa bekal. Mereka bermain di area mandi bola. Naya membawa bekal kentang goreng. Awalnya dia tidak mau makan. Wadah bekalnya hanya dibuka saja sambil memperhatikan hal yang lain. Hingga akhirnya Fathan, Attar, dan beberapa anak laki-laki tertarik melihat bekal kentang goreng Naya yang tergelatak dekat kolam mandi bola. "Bu guru aku mau" tanya salah satu dari mereka.
"Ini punya Naya bang. Coba izin ke Naya dulu ya." Jawab saya kemudian menunggu sambil memperhatikan anak-anak yang main. Fathan dan anak-anak yang lain langsung masuk ke dalam mencari Naya untuk meminta izin.
Fathan muncul lagi dan mendekat. "Bu guru kata Naya, boleh"
Saya tersenyum. Saya percaya bahwa anak-anak sudah izin pada Naya. Namun kemungkinan besar Naya belum mengerti maksud temannya saat mereka minta izin. Ahaha. Lucu sekali mereka itu.
"Ini kentangnya seperti kentang KFC ya bu guru?" Kata Fathan sambil tersenyum mengunyah kentangnya.
Attar datang dengan ide lain. Ia membawa kotak makannya yang sudah kosong kemudian menuangkan kentang Naya ke dalamnya. Et dahhh menang banyak. Ahaha. "Attar ini punya Naya, jangan dihabiskan ya" kata saya pada Attar. Ia langsung menutup wadah bekal makannya. Takut kentangnya saya keluarkan lagi. Ahaha
Naya tiba-tiba muncul. Tangannya meraup sisa kentang yang ada. Fathan yang tadinya makan pelan-pelan juga jadi lebih cepat mengunyak. Takut kehabisan. "Bu guru, kan kita harus makan sama-sama ya?" begitu tanya Fathan. Mungkin karena melihat Naya yang badanya lebih besar dari Fathan tiba-tiba makan banyak sekali.
Melihat kentang goreng yang habis, Fathan berdiri dan pergi. Naya yang mulutnya penuh dengan kentang goreng berpikir sejenak. Lalu dia keluarkan satu potek gentang goreng ayng belum digigit dari mulutnya. Mau menawarkan ke Fathan. Tapi Fathan sudah terlanjur pergi. Akhrinya dia masukin lagi deh kentangnya ke mulut. Saya tertawa sendiri melihat tingkah Naya.
Usai doa pulang sekolah saya bertanya pada anak-anak, "nanti kalau meninggal mau di kubur nggak?"
"Ngaaak" Bahran dan teman-temannya merespon.
"Terus maunya diapain?"
Bahran berpikir sejenak, "di kompa."
"di kompa biar apa bang?"
"Supaya bangun" Jawab Bahran dengan polosnya.
Saya tertawa bersama yang lain.
"Tapi, nanti kalau di kompa perutnya jadi besar lalu meletus." Irsyad menanggapi Bahran.
Hari itu melelahkan namun menyenangkan.
...
Keesokan harinya, rapat guru dan orang tua diadakan. Tiba-tiba kepala saya pusing dan saya tidak bisa melihat dengan jelas. Dipikiran saya kalau memaksakan berdiri saya khawatir jatuh. Akhirnya saya meminjam kursi ibu. Usai rapat rasanya jiwa saya sudah kelap kelip. Entah hari itu usai rapat rasanya ingin menangis. Bukan menangis sedih mungkin lebih ke lelah. Perasaan yang mungkin hanya bisa benar-benar dimengerti oleh orang yang punya kepribadian mirip saya. Malam itu agak negatif. Juga kepikiran untuk menyudahi hidup. Entah mungkin karena sebenarnya ada hal yang menumpuk namun saya sendiri tidak terlalu paham. Saya hanya ingin menepuk punggung sendiri dan berkata, "terimakasih sudah mau menghadapi rapat dan masih mau terus berjuang untuk membuat arti dalam hidup".
Saya sadar bahwa anak-anak menjadi salah satu alasan saya untuk terus belajar. Mungkin tanpa adanya mereka saya tidak akan seperti saat ini. Terlepas dari do'a saya sejak kecil. Saya sering memohon pada Allah untuk menjadikan saya sebagai manusia yang senang belajar. Tujuan hidup saya bukanlah menjadi sesuatu. Namun membuat sesuatu. Membuat karya, membuat pengalaman bersama, yang kelak saat saya meninggal dunia masih ada bisa mendapat manfaat dari semua itu.
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar