Membuat Teh (Day-14)



Aby datang paling pertama hari ini. Yang ada di kepala Aby pertama kali tentu tentang kandang dan hewan-hewannya. Jadi, usai salim dan peluk Aby langsung naik ke lantai 2. Ternyata Aby belum mengerjakan PR. Di sekolah kami memberikan PR, namun sifatnya tidak wajib. Bila anak-anak senang mengerjakannya, oke. Bila mereka tidak mengerjakannya pun tidak apa-apa. Saat saya masih menjadi wali kelas, beberapa anak bahkan ada yang ingin diberikan 5 PR sehari. Tentu jawabannya saya adalah “tidak”. Karena di sekolah kami muatan PR harus disesuaikan dengan kemampuan murid. Jadi, proses pembuatannya lama dan membutuhkan waktu berpikir yang tidak mudah. 

Anak-anak masih banyak yang sakit. Meskipun jam masuk di gabung antara kelas A dan B setiap hari kamis dan Jumat rasanya tetap lenggang. Naya masih sibuk bersama kak Ais di lantai 1. Entah apa yang mereka lakukan hari ini. Kemarin Kak Ais cerita Naya minta baca 5 buku cerita. Di sekolah proses belajar akan terus berlangsung meskipun berbeda-beda bentuknya bagi setiap anak.


Diantara kelas yang lenggang dan anak-anak dalam keadaan aman sentosa saya teringat tanaman di atas. Karena lelah selama 3 hari kebelakang, saya jadi jarang melihat ke atas. Sekedar untuk memberi mereka minum. Selain juga masih terbayang ulat keket besar waktu itu. Saya masih takut. Akhirnya pagi tadi saya mengecek  ke atas. Mata saya langsung berbinar melihat bunga telang yang mekar. Waaahhhh rasanya bahagia sekali. Senyuman di bibir tidak bisa di kontrol. Sangat lebar. Tanaman yang sudah lama saya ingin sekali punya, kini akhirnya berbunga. Saya turun ke bawah setelah memastikan pohon-pohon sudah disiram semua. Melihat Aby saya langsung mendekatinya, "bapak hewan tanaman bu guru sudah berbunga. Nanti kita buat teh berwarna biru bersama-sama yang kalau pohonnya sudah lebih besar dan menghasilkan lebih banyak bunga. Kita buat teh dengan es tanpa gula." Aby mungkin tidak sepenuhnya mengerti maksud saya, namu dia ikut senang melihat saya yang sangat antusias. 

Selepas itu Aby langsung mengatakan, "bu guru, aku mau baca". Saya pun mengajarkan Aby membaca. Aby masih memikirkan tentang membuat teh. 

"Aby belajar membacanya yang semangat ya. Nanti kalau bunganya sudah banyak kita buat teh sama-sama." Saya masih tersenyum karena bunga-bunga itu.

Kami memulai dengan mengulang hafalan surat An-nas. Baru tiga ayat, Aby tiba-tiba berhenti dan mengajak ke area bermain. "Bu guru kita bacanya di luar saja yuk." Begitulah anak-anak sangat tidak dapat diprediksi. Jadilah saya pun seperti mereka. Suka random.

Naya mendekati kandang hewan Aby. Aby melarang Naya untuk mengambil boneka hewan yang ada di dalamnya. Namun setelah itu, "Naya kamu mau makanan aku? aku bawa makanan." Aby menawarkan Naya sambil mengecek cemilan yang dia bawa. Ternyata isinya oreo rasa strawberry. Tentu Naya menyukainya. Ada 3 buah oreo di dalamnya. Satu untuk Aby, satu untuk Naya, dan satu lagi saya berikan ke Aqila. 

"Terimakasih Aby." saya mewakili Naya mengucapkan terimakasih ke Aby. Saya ulang 3 kali. Tanpa meminta Naya mengikuti apa yang saya ucapkan. Karena dengan contoh itu sudah cukup. Selain itu Naya masih perlu waktu.

"Aby, kalau ini makanan sehat atau bukan?" saya menunjuk ke makanan yang sedang Aby dan Naya makan.

"Bukan ya bu guru". Aby menjawab sambil memasukan oreo ditangannya ke mulut.

"Betul sekali, jadi makannya satu saja ya." Itulah asal mula kenapa masing-masing makan satu.

Salah satu fokus utama sekolah kami adalah membangun kebiasaan bertanggungjawab untuk membuang sampah di tempatnya. "Siapa yang mau buang sampah bungkus oreonya?" Naya langsung mengambil bungkus oreo tersebut dan membuangnya ke tempat sampah.

"Terimakasih Naya sudah buang sampahnya." Naya kembali duduk bersama Aby sementara saya turun ke bawah lupa mau apa. 


Saya lanjut mencari anak yang belum membaca. Aril menjadi anak ke dua yang membaca bersama saya hari ini. Tidak terasa Aril yang dulu awal sekolah bengong dan sulit untuk diajak bicara. Belum nengok kalau dipanggil nama, tidak mau berteman dengan yang lain, menangis kalau dibangunkan saat tidur di sekolah, sekarang sudah mengalami banyak perkembangan. Perbedaan jelas antara TK A dan TK B adalah kemandirian dan rasa tanggungjawab yang semakin membaik. Mayoritas anak-anak mengalami hal tersebut. Dalam kasus Aril kini dengan sendirinya Aril akan naik  ke lantai 2, berusaha mengerjakan kegiatan sekolah sendiri, sudah mau ikut sholat, sudah dengan keinginan sendiri mengajak membaca dan menulis, serta lebih dewasa ketika bermain dengan teman-teman yang lain. Aril yang kini ada di TK B sudah berkembang dengan pesat di bandingkan dengan Aril ketika masih TK A. Saya sangat bersyukur.

Disela-sela membaca, saya melihat beberapa gigi Aril yang berlubang. "Aril bu guru boleh foto gigi Aril?"

"Boeh" begitu jawab Aril. Saya pun mengaarahkan gawai saya ke mulutnya menggunakan senter. Usai mengambil gambar saya perlihatkan ke Aril hasilnya.



"Lihat gigi Aril hitam dan berlubang. Ini karena makan cokelat, minum es, jajan yang tidak sehat. Jadi giginya rusak."

Aril merespon saya dengan menggerakkan tangannya, maksudnya sikat gigi. Dia sudah sikat gigi. Saya memanfaatkan momen ini untuk mencoba memberi penjelasan betapa pentingnya memilih makanan sehat dan menjauhi makanan yang berbahaya. Beberapa anak ikut bergabung. Mengingat Aril tidak suka makan sayur dan buah saya pun mengulang-ulang padanya. Buah dan sayur bagus untuk gigi kita. Karena Aril biasanya makan makanan yang tidak sehat. Mie, ice cream, cokelat, jajanan. Satu-satunya makanan sehat yang saya lihat Aril mau makan adalah telur. Aril sempat bilang, "Mie ya, pakai nasi."

"Tidak, tidak Mie pakai nasi. Nasi dengan telur, sayur atau daging, ikan, ayam ya." 

"Minum air putih saja ya. Tidak Es, Tidak yang manis-manis. Oke?" Saya masih perlu menggunakan gerakan tangan untuk membantu Aril lebih mudah mengerti apa yang saya maksud. Mengingat meskipun kosakatanya sudah bertambah namun Aril masih butuh waktu untuk berbicara lebih jelas.


Cara kami memanggil anak-anak untuk bersiap sholat dhuha adalah dengan melantunkan sholawat dan lagu-lagu yang biasa kami lantunkan sebelum sholat dhuha. Lagu keluarga nabi, nama para nabi, sifat nabi, hingga nama malaikat. Anak-anak yang mendengar lantunan tersebut akan secara otomatis berhenti bermain dan langsung bersiap sholat. Tanpa diminta mereka akan bergotong royong menggelar sajadah dan yang lain memakai mukena. Sementara sisanya ada yang ikut bersholawat, bermain gendang, atau sekedar siap-siap duduk. Bangga bu guru tuh sama kalian. Keren jiwaaaaaaa.

Kamis spesial kali ini kami bermain dua permainan. Balap mobil kardus dan memasukkan bola sambil menjaga balon tidak jatuh ke lantai. Ternyata apa yang di lihat di internet dengan yang terjadi di lapangan memang bisa sangat berbeda. Anak-anak lucu sekali. Mereka ada yang saling bertabrakkan, bingung jalanin kardusnya, yang paling penting mereka terus berusaha menyelesaikan misi mereka dengan cara masing-masing. Disinilah proses belajar terjadi. Ketika sekolah menjadi tempat untuk melatih kita berpikir cara  menghadapi tantangan dan masalah dengan baik sesuai dengan kondisi yang kita punya. Hal ini yang kemudian kedepannya akan menjadi bagian dari terbentuknya kemampuan untuk menyikapi masalah dengan baik. Sementara untuk permainan yang satu lagi sulit bagi anak-anak untuk tetap di dalam kotak. Karena bolanya menggelinding kemana-mana. Ahaha

Usai permainan selesai, kak Zahra mencoba untuk mengajak anak-anak berkumpul untuk membaca do'a dan merapihkan bola. Namun belum berhasil. Melihat hal itu saya mengambil alih mikrofon, "Siapa ya anak bu guru yang mau bantu merapihkan bola-bolanya?" "Terimakasih Haura sudah membantu." "Terimakasih anak-anak bu guru yang mau bantu merapihkannya" Cara ini sangat efektif untuk menarik atensi anak-anak dan memantik keinginan mereka untuk ikut membantu. Satu persatu bergabung mengumpulkan bola, ada yang masuk ke kolong meja untuk mengambil bola yang menggelinding. Saya akan mengulang ucapan terimakasih setidaknya 3 kali. Hal ini penting karena apresiasi adalah hal yang hangat.

Melihat ada beberapa sampah balon, "Wah,ada sampah balon juga. Ada anak bu guru yang mau bantu ambil dan buang ke tempat sampah?" Bahran memungutnya dan menunjukkan ke saya. "Makasih Bahran sudah membantu." Selanjutnya kami pun membaca do'a pulang bersama. Anak-anak berkumpul. Tentu tidak otomatis mereka akan membuka mulut dan mau membaca do'a. Terutama anak TK A yang belum hafal do'a nya. Saya akan memperhatikan anak-anak. Usai membaca do'a saya hanya mengizinkan satu orang yang pulang. Karena cuma satu orang yang ikut membaca do'a.

"Bu guru pilih aku. Aku mau pulang" Aby mendekati saya.

"Tadi Aby ikut baca do'a tidak?" Aby menggeleng mendengar pertanyaan saya.

"Tadi bu guru lihat banyak anak bu guru yang tidak ikut membaca do'a. Kita ulang lagi ya do'anya"

Kali ini lebih banyak anak yang ikut berdo'a. Bukan berarti semua ikut berdo'a. Usai berdo'a saya memilih anak-anak yang ikut berdo'a satu persatu. Tersisa beberapa anak TK B. 

"Ayo kumpul sini dekat bu guru."

"Anak bu guru kan sudah TK B. Sudah hafal do'anya. Kalau TK A belum hafal. Kok tetap tidak ikut berdo'a? Ayo kita baca do'a sama-sama"

Suara berdo'a lima anak TK B pun memenuhi ruangan. Saya lelah sekali hari ini. Sampai ketiduran di lantai usai mengedit video kegiatan anak-anak.

 


Komentar

Postingan Populer