Sekolah lagi? (DAY 15 to 17)


Sudah lama ada keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Peminatan yang ingin saya pelajari adalah psikologi pendidikan anak. Agar saya bisa lebih memahami cara kerja otak anak-anak dan bagaimana pendidikan itu berjalan. Namun entah apa yang terjadi pada saya. Hal ini terus tertunda hingga genap sudah menjadi 5 tahun. Tes kemampuan bahasa Inggris sudah saya ambil, namun hasil yang didapat masih belum cukup untuk memenuhi syarat beasiswa. Biaya yang dikeluarkan tidaklah sedikit. Kini saya fokus mengusahakan apa yang saya mampu lakukan. Belajar otodidak dari buku dan sumber-sumber di internet serta berdiskusi dengan yang lebih paham pendidikan dan manajemen kelembagaan. Bukan hal yang mudah namun bisa diusahakan untukk terus diperbaiki. 


Tidak banyak cerita di hari Jum'at lalu. Badan saya sudah memberikan saya signal. Butuh istirahat. Kepala yang sudah terasa tidak nyaman sejak anak-anak TK datang, saya memutuskan untuk istirahat setelah mengajar beberapa anak membaca. Kepala masih terus berputar memikirkan promosi TK untuk kedepannya. 


Hari senin kemarin sangat amat rusuh. Sulit bagi saya menggambarkannya dengan kata-kata. Ibaratnya ada dalam satu ruangan dengan 10 anak. Semuanya menangis meminta perhatian dan beberapa ingin pulang. Can you imagine how the situation was? it was stressful. Energi saya saat itu rasanya tersedot oleh semua kerusuhan yang nyaris tidak terkendali. Semua cara yang biasanya saya gunakan rasanya tidak berfungsi dengan baik hari itu. Begitulah dinamika situasi ketika di kelilingi anak-anak yang sedang bingung dengan perasaan mereka sendiri. Sulit untuk tidak ikut bingung. Apalagi setelah semua metode yang biasanya berhasil tidak menunjukkan efektifitasnya.


Dimulai dari Attar yang menangis nyaris tidak ada jeda. Jeda sedikit, kemudian menangis lagi. Air mata dan ingus sudah tidak dapat dibendung. Melapisi hampir setengah wajahnya. Di bersihkan dengan tisu, nangis lagi. Ya, basah lagi jadinya. Naya tidak menangis namun ikut-ikutan ingin keluar pintu utama. Aby, Santoso, dan Zaky juga sedang maunya sendiri. Jadilah, satu sisi harus buka pintu untuk anak TK B yang baru datang, namun juga harus jaga anak-anak yang ingin keluar gerbang. Ditambah lagi anak TK B datangnya di waktu yang tidak serempak. Sehingga adegan tersebut diulang beberapa kali. 


Perasaan saya tentu tidak tega melihat anak-anak menangis ingin pulang. Beberapa kali diberi penjelasan namun hari itu tidak kena. Entah kenapa. Saat mengajar membaca anak-anak TK B jadi tidak fokus. Karena saya harus memperhatikan anak-anak yang lain yang sedang tidak karuan. Sungguh sangat amat.

Akhirnya di waktu pulang sekolah Zaky menggandeng Attar berjalan berdua pulang ke rumah. Lucu deh.

Hari ini alhamdulillah situasi aman terkendali. Pertanyaannya, " Kenapa di minggu pertama anak-anak ceria dan mau ditinggal. Tapi, saat minggu ke dua ada beberapa anak yang moodnya swing." kak Salwa bertanya sebelum pulang ke rumah.

"Hm... itu masih jadi misteri Wa. Cuma kemungkinan  mereka tidak enak badan. Ada hal yang meraka sedang rasakan. Tapi mereka belum bisa ungkapkan."


Satu hal yang saya sadari. Anak-anak akan terus ingin bersama orang tua mereka. Meskipun di marahi bagaimanapun, mereka inginnya bersama orang tua. Tentu hal ini akan berubah seiring bertambah usia. Semakin berjarak dan berjarak. Bila orang tua tetap menggunakan pola yang sama. Fitrahnya anak-anak sangat nyaman dengan orang tua mereka. Namun, bila kita memilih jalan yang menyakiti hati mereka secara berkala. Jarak pun akan terbentang luas. Kita yang pilih hasil yang mau di panen.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer