Sudah Nyaman (DAY 18 dan 19)


Dari balik gerbang Umar muncul sambil membawa cemilan jagung. Dengan wajah polos Umar menyodorkan cemilan itu ke saya. "Untuk Bu guru". Matanya dan rambut yang belum di sisir membuat Umar terlihat imut. Ahaha.



"Wah Alhamdulillah, terimakasih ya Umay" Namanya Umar namun sering dipanggil Umay. 

Saat Umar sedang mengantri baca, saya diberi tahu bahwa Umar membawa minuman botol Pororo. Kalau tidak salah ingat rasa buah peach. "Umar, ini minuman sehat atau bukan?" Umar menjawab dengan menggeleng. Mengamini kalau itu minuman tidak sehat.



"Umar maaf ya. Minumannya bu guru ambil." Umar tidak menatap kesaya namun mengangguk. Anak-anak yang lain melihat hal itu. Di sekolah kami hanya mengizinkan anak-anak membawa air putih. Jadi, kalau minuman bergula biasanya kami ambil dan kami buang isinya.

Ternyata keesokan harinya bu guru yang lain baru bercerita. Setelah melihat hal tersebut anak-anak jadi memilih itu membawa bekal air putih ke sekolah. Semakin tumbuh kesadaran, bahwa minuman kemasan dengan gula dan perisai perasa adalah minuman tidak sehat. Atau karena takut diambil bu guru~

Attar dan Athan masih menangis saat baru sampai di sekolah. Jangan tanya kenapa. Karena banyak kemungkinan. Kalaupun kami tanya langsung ke anak atau orang tuanya jawaban berubah-ubah. Orang tuanya bingung, anaknya pun bingung. Jadilah bingung berjamaah. Untuk itu kemampuan memahami emosi diri dan mampu menyampaikan dengan baik adalah kemampuan dasar manusia.

Saat ditanya oleh kak Ais kenapa Athan menangis kalau baru sampai di sekolah, jawaban Athan karena tidak mau lepas dari gendongan bunda. Soalnya nyaman. Bunda besar jadi digendong bunda nyaman. 


Kalau Attar kenapa menangis padahal sebelumnya tidak? Hmm...belum tau jawabannya. Karena Attar masih terbatas kosakatanya. Yang pasti terlihat sekarang Attar sudah bisa tenang lebih cepat. 2 hari lalu kalau Attar menangis bisa sampai waktu pulang sekolah. Tapi, beberapa hari ini Attar hanya menangis sebentar. Begitupun Naya. Naya setiap kali menangis hanya sebentar. Tidak lebih dari 3 menit. Biasanya kami menjelaskan, "mama pulang dulu ya Naya. Mama mau berangkat bekerja. Nanti yang jemput Naya sekolah papah. Naya kalau mau menangis dulu tidak apa-apa."

Nah, semakin sering diulang anak akan belajar memahami. Terlihat progresnya. Awalnya mereka menangis bisa sampai 2 jam. Kini hanya kurang dari 5 menit. Alhamdulillah. Buah jujur, tidak mengiming-imingi, belajar menerima dan mengerti, dan menjelaskan dengan bahasa yang jelas serta lembut. Tentu butuh sabar juga.
Karena tujuan dari belajar adalah memberdayakan-Empowering. Itu yang saya pahami. Proses belajar, ilmu yang dipelajari menjadi bekal untuk bagaimana menjalani hidup dengan lebih baik. Bukan hanya untuk mengisi ujian di kertas kemudian dapat nilai. Bukan.

Senin sampai Rabu saya menunggu di bagian teras. Menunggu anak-anak TK B datang. Guru-guru yang lain memulai kelas di lantai 2 dengan anak-anak TK A. Muhammad datang ke sekolah sambil menggenggam erat tangan uminya. Muhammad ingin umi menemaninya di sekolah. Hal yang jarang terjadi untuk anak TK B. Ini menjadi kali pertama saya melihat sisi lain dari Muhammad. Sebelumnya saya hanya mendengar dari cerita Kak Zahra selaku kakak perempuan Muhammad. Katanya kalau Muhammad menangis suka lama ditambah agak tantrum.


Muhammad membuka sepatunya sambil tetap memegang erat tangan umi. Saya yang hari itu sedang mengajarkan Shareen membaca meminta izin Shareen untuk menenangkan Muhammad. "Umi, tidak apa-apa umi bisa pulang" Saya memeluk Muhammad dari belakang sambil membantu melepaskan genggaman Muhammad. Genggamannya cukup erat. Jadi butuh waktu untuk melepaskan perlahan.

Umi Muhammad pulang. Muhammad agak marah pada saya. Terasa dari gerak badannya dan tangannya yang mencengkram tangan saya. Kakinya mau menendang namun Muhammad cukup bijak untuk menahan amarahnya.
"Maafin Bu guru ya. Di rumah Abang Muhammad masih kelas 2 SD. Mau sekolah juga tadi kata Umi. Muhammad kalau mau marah sama Bu guru tidak apa-apa." Perlahan Muhammad menjadi lebih tenang. Tidak lama, Muhammad sudah ceria seperti biasa. Bermain bersama teman-teman yang lain.

"Bu guru aku mau pisang gorengnya." Ammar mendekat lalu mengambil satu potong pisang goreng yang disiapkan ibu di wadah lonjong. Ibu tahu saya belum sarapan. Biasanya saya sarapan tergantung kondisi perut. 
"Bu guru aku taro pisangnya disini dulu ya." Ammar baru makan setengah. Saya kira dia memang mau taro dulu sebentar.

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 09.00, beberapa anak telah selesai membaca. "Ammar, ini pisangnya habiskan" 

"Nggak mau." Jawabnya singkat.

"Ammar, ayo bertanggungjawab habiskan dulu." Ammar mendekat langsung memasukkan sisa potongan pisang gorengnya sekaligus ke mulut. Mulutnya penuh. Mau muntah katanya.

"Muntah dah itu muntah." Bahran memperhatikan sambil meledek. Fokus saya masih terbagi. Mengajar baca dan memperhatikan anak-anak. 

"Abang Bahran, tidak digituin temannya."

Akhirnya Ammar berhasil menghabiskan pisang yang dia ambil. Tanpa muntah.

"Ammar hebat. Terimakasih sudah mau bertanggungjawab menghabiskan pisang yang Ammar ambil." Saya beranjak membuka kunci pintu. Anak-anak TK B langsung berduyun naik ke lantai 2 untuk sholat Dhuha bersama.


Aby yang sudah berjanji akan ikut sholat dhuha bersama sekali lagi turun ke lantai satu bersama tasnya. "Aku mau sholat disini saja sama bu guru." Aby pun sholat bersama, awalnya bersama kak Ais kemudian saya minta kak Ais untuk bantu di atas. Jadi saya dan Aby sholat bersama. Apakah khusyu? Oh tentu saja, banyak iklannya.



Kamis, 8 Agustus 2024. Fathan finally datang ke sekolah dengan senyuman. Jalan sendiri ke lantai 2 dengan  semangat. Semua guru yang melihat memberi Fathan tepuk tangan dan semangat. Kami semua bersyukur. Athan masuk ke dalam ruang kelas dengan senyuman manisnya. Sekali lagi anak-anak tidak perlu diiming-imingi apalagi dibohongi. Mereka hanya perlu diberi waktu. Waktu untuk dipahami, mengerti dan menerima. 

Ah iya, Naya kemarin mencoba menenangkan Attar loh. Naya menepuk pundak Attar sambil mengucap, "mah, mamamah" maksudnya Naya kira -kira begini, "Sedih ya. Mamah pulang dulu." Begitulah kira-kira.

Naya juga menangis selepas mamahnya pergi bekerja. "mamah, ma mamah" begitu kata Naya dengan air mata yang mengalir dan ingus tentunya.

"Qila, tolong ambilkan tisu untuk Naya ya di dekat kardus minuman disana. Terimakasih." Kata saya sambil mengajar anak-anak yang lain belajar membaca. 

Naya membersihkan ingusnya dengan tisu yang Qila ambil. "Naya, buang sampah tisunya di tempat sampah ya." Namun, tisu bukan di buang ke tempat sampah, tisu jatuh ke kolam ikan di dekat tangga. 

"Bu guruuuuu...tisu Naya jatuh ke kolam" serentak anak-anak yang lain memberi tahu.

Saya masih mengajar Kiki membaca. "Iya, nanti bu guru ambil ya." Umar mengajak saya bicara, Aril, Bahran, Aby, semua mengajak mengobrol sambil saya mengajarkan membaca. Apakah tidak bingung? hmmm...sudah terlatih oleh pengalaman. Setiap hari anak-anak seperti itu. 

"Sebentar ya sayang. Bu guru perlu fokus mengajarkan membaca teman dulu." Biasanya kalimat ini hanya bertahan satu menit. Anak-anak akan ada saja yang menghampiri dan mengajak ngobrol atau mencari perhatian.

Aril datang ke sekolah membawa dua botol minum. Satu berisi air putih dan satu lagi teh pucuk. "Aril, maaf ya teh pucuknya bu guru ambil. Agar Aril sehat." Aril mencoba memahami maksud saya. Isi teh pucuk saya buang ke tanaman sama seperti minuman Pororo milik Umar.



Kamis spesial kali ini kami mengupas dan memotong wortel. Saya bertugas mengambil video. Attar menarik-narik tangan saya karena ingin ke lantai 1.  "Attar boleh ke lantai 1 sendiri ya. Bu guru mau kerja dulu. Bu guru harus ambil video teman-teman." Attar berulang kali menarik tangan saya. Tiba-tiba dia membawa kostum mainan polisi dan topi konstruksi. Saya diminta untuk pakai. Akhirnya saya pakai kostumnya. Ahaha. Begitulah.



Saya teringat dengan salah satu episode Peppa Pig. Peppa dan George main ke rumah kakek dan nenek. Disana mereka ikut memanen buah yang akan mereka makan untuk makan siang hari itu. Mereka dilibatkan membersihkan sayurnya dan makan bersama setelahnya. Peppa suka sayur sedangkan George tidak. Tapi tidak ada satu pun adegan para orang dewasa memaksa Goerge untuk makan sayur. Mereka mencoba membuat sayur menjadi hal yang menarik untuk Goerge. Salah satunya dengan melibatkan Goerge dalam proses sebelum akhirnya sayur bisa dimasak. 
 



Komentar

Postingan Populer