Semua akan berubah
Aku menarik nafas dalam. Pikiranku seperti bunyi di tengah keramaian tempat yang malam tadi ku kunjungi bersama adik dan seorang teman. Ada sebuah tulisan menarik di sebuah poster di toko itu. "Jangan mengeluh akan kopimu yang dingin. Ia pernah hangat namun kau abaikan." Rasanya dingin sekali membacanya. Sedikit perasaan sakit di hati.
Pagi ini sambil menaiki tangga ke lantai 3 untuk menyiram tanaman aku merenung. "Apakah jika saja saat itu aku menyambut kehangatan itu dengan hangat cerita kami tidak akan pernah dingin?" Sekali lagi asumsi dan ekspektasi.
"Ku rasa tidak. Disambut atau pun tidak disambut tidak akan menghentikan kenyataan bahwa pada waktunya semua kan berubah. Aku atau dia. Maka yang menjadi penyesalanku adalah ketidakmampuanku untuk menyambut kehangatan dan menghargainya. Sehingga ia hilang terlalu cepat." Begitu hati, entah mungkin juga pikiranku, keduanya saling berbicara.
Menyambut kehangatan dengan hangat. Aku menyadari sesuatu. Entah kenapa banyak momen dimana aku lebih suka menjauh ketika ada kehangatan dari seseorang yang mendekat. Ku hanya bisa menerima sedikit sekali. Selebihnya akan ku tolak. Sampai aku sudah berada di situasi dimana terus menerus terombang-ambing dalam kehangatan terus menerus ku kirim pada orang lain meskipun orang tersebut tidak akan pernah membalasnya. Mudahnya saat kehangatan datang pada ku, aku cenderung menghindar. Kemudian mencoba memberi kehangatan pada orang lain yang juga tidak terbiasa menyambutnya.
Sabtu, 28 September 2024
Tepatnya kemarin. Setelah kurang lebih dua minggu latihan, tim nasyid pun menyiarkan suara mereka di acara peringatan maulid di rumah. Fafa yang hanya tiga kali latihan bersama berhasil menghipnotis pendengar dengan penampilan puisinya.
Hari itu juga aku, de Ais, dan Anggalung bertemu untuk ke dua kalinya. Kali ini kami saling sapa di Plaza Blok M. Ada cerita riweuh tentang sholat disana. Aku tidak suka toiletnya. Tidak asik. Tanpa bidet air untuk cebok sudah cukup membuat aku memutuskan untuk menahan panggilan alam selama itu buang air kecil. Buang air besar di lingkungan dengan toilet seperti itu adalah siksaan. Ah, aku tidak mau ngomel-ngomel tentang hal ini. Toilet, tempat wudhu, dan sholat di Plaza Blok M.
Burger King,
Setelah bertempur dengan toilet, tempat wudhu, dan sholat. Aku berjalan menuju Burger King mengikuti de Ais. Berjalan bersamanya membuat aku tidak perlu berpikir mandiri mencari jalan. Hari itu pertama kalinya aku seperti melihat teman yang sudah beranjak dewasa. Dia terlihat berbeda dengan pertemuan kami pertama kali di Tebet. Seperti jiwa yang sudah tumbuh lebih tinggi.
Jiwaku masih di kelilingi oleh anak-anak yang senang tersenyum dan melakukan tingkah-tingkah sederhana pun adakalanya merasa takut. Sisi ku yang lain masih terus mempertanyakan dan mencoba untuk lebih memahami diri dan kehidupan.
Kami mengobrol. Saat menulis cerita ini aku baru sadar bahwa ia tidak bercerita apapun tentangnya. Waktu terus berjalan. Begitu pula dengan ku, adik, dan Anggalung. Akan terus ada masa dimana kami berubah. Terus akan berubah. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Hanya sesuatu yang ku sebut 'hidup'.
.jpg)



Komentar
Posting Komentar