Sebuah Alasan

Gadis itu berdiri di depan lemari kayu yang lengkap dengan meja belajar. Tangan kanannya masih mecoba meraih bagian belakang lemari. Karena tidak sampai, kakinya pun jinjit. Ia terus merenggangkan tangannya meski tentu lebih mudah bila ia berpindah dahulu ke bagian belakang lemari, sehingga bagian perutnya tidak perlu terhalang oleh lebar meja belajar yang menyatu dengan lemari. Bila posisinya lurus, ia pasti berhasil. Hanya saja karena terhalang meja, jadilah ia berpose seperti patung Pancoran. Sejak hari itu ia berjanji pada dirinya sendiri. "Suatu hari nanti aku pasti bisa tumbuh lebih tinggi dan bisa pegang bagian belakang lemari ini tanpa berjinjit!." Begitu kuat tekadnya meski ia bicara di dalam hati. Sungguh ambisi yang sangat mulia--sederhana dan entah apa manfaatnya. Bagi anak berusia 9 tahun versi dirinya, itu adalah sebuah hal yang keren bila tercapai.

Cermin di lemari mengalihkan perhatian si gadis kecil. Ia mulai merapihkan rambut panjangnya. Ia tak suka bila orang menyuruhnya untuk mengikat rambut. Membiarkan rambut terurai panjang menjadi kebiasaannya. Rambutnya tebal dan sedikit bergelombang. Ia sangat menyukai rambutnya. Meski di masa depan kelak akan ada masa dimana ia tidak menyukai rambut tebal karena sulit merawatnya. Naira masih memperhatikan wajahnya di cermin. Ia pakai topi yang ada di dekat lemari. Sebagian rambutnya ia selipkan dibagian lubang belakang topi tersebut. Mengingatkannya pada seseorang yang wajahnya sering berseliweran di Tv. "Wah aku terlihat keren." Begitu ia tersenyum dan memuji diri sendiri.

"Bagaimana ya rasanya memakai topi di luar rumah?." Ia pun tenggelam dalam imajinasi namun tak pernah mencobanya. Sebagai anak perempuan yang terlahir di keluarga muslim yang sudah memakaikan anak mereka jilbab sedari usia belia, membuat  Naira tak punya kesempatan untuk memilih. Meskipun usia 9 belumlah wajib bagi dirinya untuk memakai jilbab. Namun rasa berat di hatinya sudah tumbuh. Jangankan melepas jilbab, di keluarganya memakai celana panjang di luar rumah tanpa di tutupi oleh rok adalah dosa besar. 

"Ma, boleh ya aku pakai celana untuk olahraga sama teman-teman?." Suatu hari Naira bertanya dengan nada memohon.

"Boleh! tapi jangan jadi anak mama." Begitulah jawaban singkat mamanya.

Anak mana yang berani kalau direspon dengan seperti itu. Mungkin ada saja yang berani. Tapi, ya tidak banyak. Naira tidak sepenuhnya penurut. Meskipun ia sering menjawab apa adanya kalau teman atau guru bertanya kenapa saat olahraga ia tetap memakai rok. Adakalanya di luar radar mamanya, ia memutuskan untuk melepas roknya di sekolah. Kemudian berlari dengan lebih leluasa menggunakan celana panjang olahraga. Pulang ke rumah barulah ia pakai lagi. 

Naira suka sekali olahraga dan seni bela diri. Di sekolah ia mengikuti ekstrakulikuler seni bela diri. Karena seragamnya menggunakan celana, sang ibu tidak mengizinkan anak ini untuk ikut. Hanya saja Naira tetap bersikeras. Gadis kecil itu sedikit demi sedikit mengumpulkan uang jajannya. Hal yang tidak sulit karena ia sudah terbiasa menabung sejak memiliki sahabat  dekat yang pandai menabung. Namun, setiap kali ia selesai dari kegiatan tersebut, mamanya akan menyambutnya dengan sapu di rumah. Yang siap mendarat di kaki si gadis kecil. Naira akan diam saja dan menangis dibalik bahu ayahnya. Sementara sang ibu akan berpidato dengan sekuat tenaga dan tiada yang tahu kapan ia akan berhenti dan tidak ada yang berani menjawab.

Naira terlahir sebagai anak yang suka sekali mempertanyakan sesuatu. Ayahnya memberi dia julukan "polisi cilik." 

Di satu siang, anak ini melamun dengan sebuah pertanyaan di benaknya. "Bagaimana kalau agama yang aku percaya bukanlah agama yang benar? Bagaimana kalau agama yang lain yang benar? Gawat! masuk neraka lah aku!." Hari itu ia habiskan untuk mempertanyakan topik tersebut, hingga akhirnya ia mendapat jawabannya sendiri. Ia tak berani membawa pertanyaan tersebut kepada orang tuanya. Karena pertanyaan tersebut sangatlah sensitif. Setidaknya bagi keluarganya.

Bertumbuh membawa identitas sebagai seorang muslim, yang dipaksa lingkungan untuk tidak mempertanyakan sesuatu yang terkait dengan agama. Naira menjadi remaja muslim yang cukup keras. Ketika melihat perbedaan atau hal yang dalam pemahamannya adalah dosa, dia akan cukup agresif untuk menyerang orang tersebut dengan argumen yang dangkal. Kepercayaan bahwa apa yang dianggapnya benar adalah satu-satunya kebenaran sempat menjadi kompas hidupnya.

"Aku tuh bingung ya! Ada orang udahnya miskin, malas sholat pula. Gimana coba hidupnya?!." Itu salah satu contoh argumen Naira sebagai seorang remaja. Ia belum bisa membedakan dengan baik mana yang menjadi ranah pribadi dan umum.

....tobe continued


Komentar

Postingan Populer