Anak-Anak Bu Guru

 

Hari Rabu, tepat 9 April 2025 usai sudah libur sekolah dan mengaji anak-anak. Bagi para guru, kami memulai kerja sejak hari senin. Diawali dengan diskusi harta karun, buku Guide for Critical Thinking by Sabda PS. Sebuah diskusi yang menyenangkan. Semua berusaha memberikan yang terbaik meskipun sulit untuk menyampaikannya. Tapi saya sangat menghargai segala usaha dan kooperatifnya mereka untuk terus belajar. Keesokan harinya semua guru kumpul lebih pagi. Beberapa merapihkan ruangan, sedangkan yang lain merapihkan materi ajar. Hal yang saya syukuri dan tim guru saat ini adalah, kemampuan mereka berkerjasama sudah semakin baik. Hal yang saya sangat harapkan saat berkerjasa bersama adalah bisa sama-sama belajar dan bertumbuh. Saya dikatakan gagal sebagai pemimpin bila hanya saya yang bertumbuh meninggalkan yang lain. Untungnya meski tidak mudah dan mungkin agak memakai jurus “Allohumma paksakeun” tapi mereka melakukannya dengan baik. Belajar bersama.



Sebelum libur, selama satu minggu terakhir proses belajar di bulan Ramadan kami mengadakan Gebyar Ramadan. Jadwal belajar berubah menjadi siang hari. Saat itu Naya masih bisa untuk bekerjasama. Namun setelah beberapa hari, Naya mulai menangis.Lebih lama dari biasanya. Saya bingung, begitu pula guru-guru yang lain. Sampai akhirnya di hari Kamis, saat acara buka puasa bersama dengan anak-anak TK. Naya menangis terus menerus. Lebih intens dari hari sebelumnya. Sehingga saya putuskan untuk menghubungi orangtuanya. Mama Naya menjemput Naya lengkap dnegan baju seragam kerjanya. Beliau terlihat lelah. “Mungkin dia kaget dengan jadawnya baru bu. Biasanya pagi jadi sore.” Mendengar hal itu saya yang juga lelah, memutuskan untuk duduk sejenak di kursi teras. Saya memutuskan untuk membaca beberapa artikel yang membahas perubahan jadwal bagi anak pengidap Autisme. Ternyata benar saja, hal itu tidak mudah untuk anak-anak seperti Naya. Sejak hari itu saya belajar hal baru tentang Autisme. Alhamdulillah.

Berbekal ilmu tersebut, cara saya berbicara dengan Naya sudah saya perbaiki dan lebih disesuaikan lagi. Tentu tidak mudah. Hari ini Naya masuk sekolah pagi kembali. Ia menangis tidak mau turun dari motor. Neneknya diajak untuk naik motor kembali. Naya menolak sekolah. Sudah menangis. Awalnya yang menangani Naya adalah Kak Ais. Saya masih mengajarkan anak yang lain membaca. Karena Naya tidak kunjung berhenti menangis, saya memutuskan untuk melihat. Mencoba membujuk bersama adik saya. Namun tak berhasil. Mamanya sudah mau menyerah. Memutuskan untuk Naya diajak kembali pulang. Namun saya juga memutuskan, “Gak apa-apa, Naya diangkat. Nanti saya yang temani.”

“Nanti kaya waktu itu bu. Dia nggak berhenti menangis.” Mama Naya merespon.

“Dicoba dulu ma. Mudah-mudahan bisa.”

Kak Ais langsung menggendong Naya sambil berkata, “maaf ya Naya.” Itu adalah budaya di sekolah ini. Mengatakan maaf pada anak-anak yang memang saat itu yang terjadi mereka harus dipaksa melakukan hal yang mereka tidak mau. Maaf karena sudah menyakiti hati mereka.

Benar saja, pagi itu sekolah diisi oleh tangisan Naya. Keluar sudah dua garis bening dari hidungnya. Saya segera mengambil tisu. Ketika hal semacam ini terjadi, hal yang bisa dilakukan adalah “tenang” tak ada jalan lain. Saya duduk. Naya masih memegang sandal ungu miliknya, lengkap dengan tas ungu bergambar Mickey Mouse di punggungnya. “Naya maaf ya.”

“Kalau Naya masih mau menangis tidak apa-apa.”

“Lihat, ingus Naya jatuh keluar. Coba pakai tisu dulu.”

Tidak mudah untuk bicara dengan Naya karena kosakata yang Naya bisa. Hati yang tenang bisa bantu Naya untuk ikut tenang. Naya tidak suka di sentuh. Sehingga memeluk untuk menenangkan pun tidak akan membantu. Satu-satunya cara adalah memberi ruang dan ada disisinya. Pasti tidak mudah juga untukk Naya. Karena sebenarnya dia juga ingin menyampaikan isi kepalanya.

Anak-anak yang lain melihat hal tersebut. Empat anak Perempuan yang menungggu untuk gilliran membaca. Dalam hati saya berbisik harapan, “nak, mudah-mudahan kelak bila kalian menjadi guru ataupun orang dewasa menghadapi hal yang sama seperti yang kalian saat ini. Kalian bisa memcontoh apa yang kalian saat ini. Tenang, bersabar, dan berempati.” Itu do’a saya di dalam hati.

Naya menunjuk ke arah teras. Ia ingin menunggu di teras. “Naya ingin ke teras? Oke bu guru temani. Tapi Naya tidak menangis ya? Itu ingusnya sudah banyak.”

Saya dan Naya pun pindah ke teras. Naya masih menangis. Namun tidak sekeras saat di dalam. Attar datang membawa buku. Akhirnya saya memutuskan untuk membaca buku bersama mereka. Sudah 4 buku dibaca bersama. Tentu kosakata Naya dan Attar masih sangat terbatas. Namun dengan rutin dibacakan buku mereka akan belajar banyak hal. Mungkin agak sulit bagi mereka untuk merespon dengan kata-kata yang jelas. Namun, saya sudah sangat bersyukur melihat mereka senang dibcakan buku cerita. Naya sudah semakin tenang. “Naya, sandalnya kotor. Kalau Naya peluk sampai ke wajah Naya, nanti wajah Naya jadi kotor juga. Simpan di rak ya sayang.” Naya pun meletakkan sandalnya, kemudia Attar dengan sigapnya mengambil sandal Naya lalu menyimpannya di rak sepatu dekat gerbang sekolah. “Terimakasih Attar” begitu ucap saya. Selain sebagai bentu apresiasi untuk Attar, dialog seperti ini bisa membantu Naya untuk belajar.

Naya dengan Tisu dan Sandal Ungu

Ada hal yang sangat mengharukan. Jadi, karena ingus Naya terus keluar. Naya pakai beberapa tisu. Hebatnya, Naya tidak buang tisu itu sembarangan. Tisunya ia pegang. Setiap kali jatuh ia pungut lagi. Hingga akhirnya ia buang semua bekas tisunya di pengki. Begitu juga Attar. Usai pakai tisu langsung ia buang di tempatnya. Saya bersyukur anak-anak sudah mengerti tanppa harus diingatkan lagi.

Terhitung sudah 6 buku dibaca bersama. Saat menyimak buku bersama, beberapa kali Attar mengalah. Karena Naya maunya duduk di tempat awal. Jadi ketika Attar menempati tempat duduknya walau sedikit, Naya agak kesal. Untungnya Attar mau mendengarkan saya dan pindah. Setiap kali Attar mau bekerja sama dengan baik, saya biasakan untuk mengucapkan, “terimakasih ya Attar.” Hal ini sangat membantu anak-anak.

Attar menyusun  kursi di teras menjadi kereta. Kami mengambil jeda dan akhirnya main drama kereta bersama Attar. Tentu saya tidak terlalu mengerti apa yang Attar maksud. Namun, saya ikut saja apa yang dia lakukan dengan imajinasinya begitu pula Naya. Ahahaha.



Saat sudah tiba waktunya anak-anak membaca do’a, Attar bergegas merapihkan tasnya dan juga tas Zaki yang tertinggal untuk segera gabung bersama teman-teman di  lantai 2. Naya? Tidak mau. Naya maunya di teras. Akhirnya sampai pulang sekolah tiba, saya dan Naya membaca buku di teras. Sudah lebih dari sepuluh buku dibaca. Tak teras tenggorokan rasanya keriiiiiiing sekali. Meskipun sudah minum. Ternyata menguras suara juga ya. Ahaha. Namun, saya benar-benar sangat bersyukur Naya menyukai dibacakan buku cerita. Saya yakin suatu hari nanti Naya akan bertumbuh dan berkembang dengan pesat. Naya, terimakasih sudah berusaha di sekolah, meskipun saat mama jemput Naya langsung menangis. Semoga besok hati Naya bisa lebih ringan ya.

….

Saya melihat anak-anak sebagai kehidupan yang memiliki cerita panjang. Sehingga perlu seserius itu berinteraksi dengan mereka. Dalam artian, benar-benar harus penuh dengan pertimbangan ilmu dalam prosesnya. Bukan menjadi seorang dewasa yang sempurna. Cukup berusaha sesadar mungkin dan seadil mungkin. Saat saya melakukan salah, ya sudah akui lalu minta maaf. Saat mereka melakukan salah, ya ditegur dan dibantu untuk paham. Saat melakukan hal yang baik, diapresiasi. Karena mereka akan terus tumbuh. Mudah-mudahan bukan hanya usia yang bertambah. Namun juga bisa menjadi manusia yang ilmu terus tumbuh begitu pula  kebijaksanaannya.

 

 

 

Komentar

Postingan Populer