Keinginan Menjadi Sempurna
Apa itu sempurna? Apakah malaikat itu bentuk dari kesempurnaan? Mengapa mayoritas manusia cenderung menyembunyikan kesalahan-kesalahan penyebab luka? atau bahkan kesengajaan yang dilakukan dan sadar melukai, namun tidak ingin mengakui. Sebegitu hinanya kah untuk mengakui dan menerima?
Menyimak berita dan sumber-sumber terkait rencana pemerintah melalui perwakilan kementrian kebudayaan untuk menulis ulang sejarah Indonesia agar lebih 'postif' dengan cara tidak jujur dengan kebenaran. Hanya karena tidak ada bukti tertulis dalam buku sejarah tertentu. Kemudian meniadakan fakta yang tertuang dalam buku lain atau para saksi yang tidak sejalan dengan penguasa saat itu. Dua menit pertama mendengarkan kisah pemerkosaan massal tahun 1998, hati saya menciut. Selalu saja begitu, harus menguatkan hati sekedar itu membaca ataupun mendengar kisah tentang perempuan. Begitupun kisah palsu tentang sebuah partai besar yang mengalami genosida di tahun 1965. Doktrin palsu yang menyeruak sangat kuat sehingga menjadi kepercayaan diantara masyarakat kebanyakan. Termasuk saya pada masanya.
Saya menulis tentang 'menyembunyikan' cerita karena saya teringat sesuatu, hal yang dekat dengan saya. Misalnya saat berargumen dengan orang tua terkait apa yang terjadi di masa lalu. Di saat semua masih mencoba untuk berdiri tegak. Saat kesulitan ekonomi menemani hari-hari. Beban yang berat kemudian membuat amarah memuncak setiap kali pulang kerja. Siapakah yang mudah dan memungkinkan untuk dijadikan sasaran? Ya, jawabannya adalah ANAK. Karena anak dianggap makhluk yang lemah dan bergantung sangat besar pada orang tua. Naturalnya manusia memiliki kecenderuangan mencari sasaran pelampiasan pada sesuatu yang setara atau lebih lemah. Bentakkan, kalimat tidak pantas, pukulan, menghiasi rumah. Tentu ini bukan hal yang terjadi pada satu keluarga tertentu saja, banyak keluarga yang melalui proses yang mirip. Apakah ini aib? apa itu aib?
Aku berandai-andai, bilamana lebih banyak dari anggota keluarga menerima bahwa kita semua hanya manusia. Kemudian saling bicara dan mendengarkan. Tanpa membuat kesimpulan bahwa orang tersebut menceritakan kembali kejadian karena rasa benci. "Aku adalah orang jahat di matanya. Memang aku sama sekali tidak ada baiknya. Sana cari orang tua yang lain." Kalau sudah begini maka sudah dapat dipastikan tidak akan ada jalan temu. Sejak awal sangat penting untuk memiliki tujuan yang sama. Berdialog untuk saling memahami.
Sudah 10 tahun lebih saya menjadi pendidik. Sebagai guru saya melakukan banyak kesalahan. Beberapa menjadi sesuatu yang--sampai sekarang menghantui saya. Tentang perasaan si anak dan bagaimana ia melihat dirinya serta dampak kedepannya karena dampak perlakuan bodoh yang saya lakukan pada mereka. Di saat saya masih memiliki banyak PR dalam hal mengelola emosi dan merespon kejadian. Saya mengerti anak-anak mungkin sudah tidak ingat atau bahkan memaafkan. Namun kejadian di masa lalu, saya ingat untuk menjadi pengingat agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Saya sangat berterimakasih kepada anak-anak. Sungguh hanya rasa bersalah dan doa yang bisa saya tengadahkan untuk keselamatan hidup mereka. Adakalanya saya ingin berhenti dan merasa tidak pantas menjadi seorang guru. Sampai saya sadar, bahwa segalanya berproses. Berani mengakui kesalahan, bertanggungjawab dan mencoba untuk memperbaiki diri sudah cukup.
Saya tidak terlalu mengerti alasan politik dari dihapuskannya sejarah. Saya hanya tahu sedikit, yaitu untuk pencitraan. Ketika sesorang masih butuh untuk mencitrakan diri positif, bukankah itu berarti terlalu kuat bukti yang menunjukkan bahwa sesorang berkualitas sebaliknya?
.png)


Komentar
Posting Komentar